Kamis, 10 Desember 2015

[FF] Jeongkook's Diary

Hai para pemirsah/? hari ini gua mau post ff. FF lama sih, jaman BTS baru debut. Jaman jaman Rap Monster masih pake kacamata ke toilet #eh.
.
.
Ini cuman sekedar FF sederhana, gua sempet pen bikin ceritanya yang versi panjang tapi malesin.
.
.
.
.
silahkan bagi kalian semua yang mau nyolong ide cerita ini, yang pasti Tuhan tau siapa yang ambil jalan ceritanya. Kalaupun cerita ini mirip sama ceritanya orang lain, maapkan hambamu ini yang tidak terlalu kreatif. maapkeun hamba juga yang menulis ff pake gue-elu.
.
.
.
.
.
.
.
can you write you comment after read it? Just one comment will help me :)

.
.
.
.
Jeongkook’s Diary
Cast :
        Jeon Jeongkook (BTS)
        Jenniffer Ahn (OC)
Genre : ... entah

Camera rolling
.
.
.
.
.
action!


14 Februari 2010
Valentine ya? Cowok gapapa kan ngasi cokelat? Lagian dia kan banyak yang ngasi juga *woles*
Gue Jeon Jeongkook, gue suka sama temen gue sendiri. Namanya Jenniffer Ahn. Mamanya orang Korea. Papanya orang Inggris. Anak orang kaya. Papanya CEO perusahaan besar dunia, Vandergaard Group. Ibunya penulis novel sekaligus aktris terkenal. Kakaknya model sekaligus aktris internasional -Yoongi Hyung temen trainee, ngefans sama kakaknya Jennie-. Tapi anehnya dia samasekali nggak sombong. Dia pinter, walaupun nggak sepinter gue -huahahaha-. Populer lagi, kurang apa coba?
Eh, gue kok lebih mirip cewek ngefans ya daripada cowok jatuh cinta?
Tapi yah, mana mungkin dia suka sama gue? Cewek kaya dia, ga mungkin pacaran sama cowo culun kaya gue. Noleh aja ga tau. Yang ada kalau gue nembak dia, dia langsung jawab, “aku mau. Tapi sedetik setelah kita jadian, kita putus.”
Tapi gue gak akan nyerah gitu aja. Setidaknya supaya dia tahu gue suka sama dia. Dan hari ini, waktu gue mau ngasi dia cokelat, cokelat gue malah diambil Jun, temen sebangku gue. Daripada gue malu, ya gue bilang aja itu dikasi mami gue.
Alhasil, valentine tahun ini gue cuman bisa ngeliatin dia aja. NGENES.


14 Februari 2011
Hari ini! Gue semangat banget ke sekolah. Gue udah niat buat ngasih cokelat lagi ke Jennie. Kali ini gue akan bersifat Manly -tapi gasido-. Sayang banget Jenni udah jadian sama kakak kelas -gue gatau namanya, kalopun tau gu ga berani jotosin orang itu. Palingan juga Jimin-. Yaudah, daripada gue dicap perusak hubungan orang, mendingan gue makan sendiri -valentine menyebalkan-.
Tapi janggal deh. Jennie kayanya ngeliatin terus dari tadi. Yah, bukannya gue yang kege’eran. Awalnya aja gue kira cuman perasaan gue aja. Ternyata! Jun sadar juga. Dia bahkan tanya langsung ke Jennie kenapa ngeliatin gue terus. Waktu gue nanya Jennie bilang apa, si Jun malah ngomong,
“Selama waktu masih berjalan, elu bakal tahu kok.”
Gue balik nanya, “terus, kenapa dia murung aja dari tadi?”
Si Jun jawab, “pacarnya ga sesuai keinginannya. Gitu katanya.”
Gue makin bingung aja. Jawaban si Jun bener bener ga, gimanaaaa gitu


17 Februari 2011
Kemarin, gue gamasuk 3 hari ceritanya, dan hari ini, gue mau nulis percakapan antara gue dan Yoojung tentang sebuah berita yang ga enak, mirip banget baunya kaya Jun kalau kentut.
Pagi hari yang cerah, gue melangkah masuk ke sekolah setelah 3 hari demam. Efek Jennie jadian kali. Entah ini gue yang berangkat kepagian, apa anak anak yang berangkat kesiangan? Waktu gue masuk kelas, cuman ada Yoojung doang coba. Apa ini???
Gue                       : Pagi!!!
Yoojung                 : Loh? babe, udah baikan be??
Gue                       : pan gue cuman demam aja nak.
Yoojung                 : kaya anak kecil aja lu be, pake demam segala. Be, mau tahu cerita bagus ga?
Gue                       : nak, lu mau babe lu ini jadi bencong yang demen gosip?
Yoojung                 : sok sokan lu be, jangan jangan lu suka gosip sama encing Jun?
Gue                       : enak aja. Udah cepet cerita sebelum elu gue kutuk jadi batu
Yoojung                 : Jennie pindah ke Amrik nyusulin 姐姐(jiejienya kuliah. Katanya cintanya ga kejawab
Gue                       : jiejie apaan sih?
Yoojung                 : kakak elah, lu belajar bahasa mandarin tapi ga tau jiejie?
Gue                       : suka suka gue dong. Tapi ngomong ngomong, apa hubungannya sama gue coba? Kalau mau pindah pindah aja keles.
Yoojung                 : keles apaan sih? Ketek teles?
Gue                       : terserah
Yoojung                 : pokoknya, jennie suruh gue cerita ke elu be. Mungkin dia minta doa ke elu. Elu kan babe seluruh umat.
Gue tahu, Jennie nganggep gue apa. Gue cuman ketua kelasnya. Gue cuman orang yag dianggep babe sama semua anggota kelas. Ternyata, sekeras apapun gue berusaha, gue tetep nggak ..., yah, tau ah.

14 juni 2013
Hari pertama gue sebagai artis. *huehehe*
Entah kenapa walaupun udah 2 tahun, gue tetep ga bisa ngilangin sosok Jennie dari otak gue. Tapi gue akan tetep berusaha. Gue tahu, gue bukan tipe orang yang gampang menyerah. Gue akan tetep ngilangin sosoknya dari otak gue walaupun sulit. Wish me luck my diary(?)

15 Februari 2014
Kemarin Valentine!!!! Gue dapet banyak cokelat!!!! Dari fans, dari hyungdeul. Hueee!!! #menangissenang
Hari ini gue tes masuk SOPA (Seoul School of Performing Art). Akhirnya, gue sekolah juga setelah setahun gak sekolah demi menjadi artis terkenal #apaansih. Dan ini semua gila! Bikin gue balik masa masa debut!. Bikin gue inget waktu smp juga sih.
Sampai saat ini, gue masih ga bisa ngelupain si Jennie. Gue kangen banget sama dia #alay. Jimin bilang itu normal. Taehyung bilang, ‘biasa aja keles’. Jin hyung bilang, ‘itu urusan lu’ -ni orang jahat banget sama gue-, Yoongi hyung bilang, ‘kayanya gue kenal’. Yoongi hyung mah semua orang kenal, dia kaya tukang ledeng yang kenal semua pelanggannya. Ya masa iya, dia kenal hampir seluruh pacarnya memberdeul? Lupakan. Hoseok hyung bilang, “nggak papa, ntar juga lupa kok.” Dan Namjoon hyung bilang, “gue ga buka usaha curhat. Ok?”
Yah, Jimin, Yoongi hyung, dan Hoseok hyung itu orang baik. Semoga mereka diberkahi Tuhan. Amin.
Hari ini sabtu ya? Kata Yoongi hyung, kalo jomblo berdoa di malam sabtu itu doanya dikabulkan -ini bener bener absurd. Tapi udah dibuktiin Jimin. Jimin dapet pacar seminggu setelah berdoa (?)-. Gue ikutan ah.
Semoga di masa sma ini, gue ketemu Jennie lagi. Amin..
 

Minggu, 17 Mei 2015

[FF] 1004 END

Hai, gue lupa masa mau ngelanjutin ff yang 1004 itu. Mending gue post dari awal sampai the end nya aja ya. okesip.

1004
Cast :
- Kim Yuji (oc)
- Kim Himchan
- Kim Myungsoo

Precast :
- Banyak

WARNING! TYPO EVERYWHERE! JAN SALAHKAN SAYA JIKA ANDA MENEMUKAN TYPO TYPO YANG ARTISTIK/?

12 tahun yang lalu…

“annyeong, Kim Yuji imnida…” salam seseorang yeoja kecil pada seorang namja kecil di sebuah  taman bermain di TKnya. Yeoja itu sepertinya baru saja masuk di sekolah TK itu.

“ah, annyeong, Kim Myungsoo imnida…” jawab namja itu.

“senang bertemu denganmu Myungsoo-ssi…”

“senang bertemu denganmu juga Yuji-ssi. Ayo bermain bersama…”ajak namja itu sambil tersenyum.

~~~

Yuji pov

Rasanya aku ingin kembali ke masa TKku saja. Bertemu dengan pangeran pujaanku yang pernah mengajakku bermain untuk yang pertama kalinya. Bertemu dengan seseorang yang bernama Kim Myungsoo. Berhadapan dengannya. Memandang senyum manisnya. Rasanya sekarang aku ingin terbang, memutar waktu dan…

“ya! Kim Yuji!” teriak seorang namja sambil menggebrak mejaku. Kim Himchan.

Hmm… sepertinya impianku sia sia saja. Yang terlihat didepanku bukanlah Kim Myungsoo. Namun Kim Himchan, sahabatku, musuhku, ketua kelasku, bahkan presiden sekolahku. Hmmm… sebenarnya apa yang dipilih dari orang yang menyebalkan seperti dia??

“apa?” tanyaku pada Himchan. Melihat nada jawabanku padanya, terlihat sekali bahwa kami sering bertengkar.

“mana Woohyun? Bukannya tadi kau bersamanya?”

“wakilmu itu? mana kutahu, mungkin dia sedang berjalan jalan dengan Jongup.” Jawabku asal sambil mulai memasang earphone di telingaku.

“dasar Nam Woohyun. Disaat yang diperlukan seperti ini dia malah tidak ada…” ujar Himchan. Kemudian dia menoleh ke arahku, “hei, Yuji!”


“yuji!”


“Yuji!!!”


“YUJI!!!”

“Apa??” tanyaku kaget sambil melepas earphoneku.

“tidak bisakah kau melepas earphonemu dan mendengarkanku?” tanya Himchan keki.

“aku sudah melepas earphoneku. Sekarang bicaralah…” jawabku tenang.

“ish.. katakan pada woohyun kalau dia kutunggu di ruang auditorium. Dan, apakah kau tahu dimana orang yang menyukai kakakmu itu??” tanya Himchan usil.

“siapa?”

“siapa lagi orang yang menyukai Kim Sunggyu selain Jung Eunji??” tanya Himchan sedikit tertawa.

Jung Eunji. Siswi kelas X-A yang terkenal glamour, sok cantik, dan –yang paling utama—menyukai Kim Sunggyu, kakakku yang berada di kelas XII-IPA1. Kakakku merupakan pendamping kelasnya sewaktu  kami menjalani Masa Orientasi. Bahkan dia –Eunji—pernah menyuruhku untuk tidak dekat dekat dengan Sunggyu oppa. Dan alhasil, dia sendiri yang menanggung malu saat istirahat waktu itu.

~~Flashback~~

Jam istirahat tanggal 15 bulan lalu, aku duduk di sebuah kursi di kantin dengan Himchan, Woohyun, Daehyun dan Namjoo. Saat aku sedang bercanda dengan Himchan…

“yo, Yuji!!!” panggil seorang sunbaenim, Bang Yongguk.

“ne oppa?” tanyaku, sambil berdiri.

“kau dipanggil Sunggyu! Ada sesuatu yang ingin dia berikan katanya.” Jawab Yongguk oppa.

“oh, ne!” jawabku sambil berlari kearah Yongguk oppa.

15 menit kemudian…

“ada masalah apa??” tanya Namjoo padaku.

“ini,” jawabku sambil menunjukkan sebuah tas laptop –berisi laptop pastinya—dan sejumlah uang.

“kau belum diberi uang saku? Sampai harus minta pada Sunggyu sunbae??” tanya Himchan sambil tertawa.

“belum! Tadi uangnya dikorupsi sunggyu oppa…” jawabku tanpa sadar kalau Eunji ada dibelakangku.


“apa kau bilang? Sunggyu oppa korupsi?” tanya


Eunji.

Aku membalik badanku. “oh hai eunji.” Sapaku malas.

“kau tadi bilang apa? Sunggyu oppa korupsi? Bukannya kau yang harus dituduh seperti itu?” tanya Eunji sinis. “lihat, kau bahkan memaksa seorang sunbae meminjamkan laptopnya untuk orang sepertimu.” Sambung Eunji.

“ kenapa? Kau iri?” tanyaku.

“iri padamu? Untuk apa? Lihat saja, pasti mudah bagiku untuk mendekati Sunggyu sunbaenim. Tidak sepertimu yang menggunakan cara yang tidak baik.”

“tidak baik??” tanya seseorang dibelakang Eunji.

Melihat kedatangan Sunggyu oppa, Eunji langsung menghambur  memeluk tangan oppa sambil pura pura menangis. “oppa, tadi dia menamparku.”

Sunggyu oppa melepaskan tangannya sambil berkata, “bukannya kau yang bilang kalau cara Yuji tidak baik. Apa batasan saudara dianggap tidak baik?? Yuji adik kandungku. Bukan orang yang tidak penting sepertimu.”

~~~Flasback end~~~

Aku memanyunkan bibirku mendengar namanya. “mungkin dia sedang ganti kulit.” Jawabku asal.

Himchan tertawa. “selain itu, dia bisa saja sedang melolong ke kakakmu ‘oppa, plis, pinjami aku laptopmu… sekali ini saja’” ujar Himchan sambil menirukan gaya Eunji yang manja –alias praktek aegyo-.

Aku tertawa. Aku benar benar tidak menyangka reaksi Himchan berlebihan seperti itu. “katamu kau menyukainya.”

Himchan berhenti tertawa, dia duduk disebelahku. “sejak sebulan yang lalu, aku tidak menyukainya lagi..”

Seseorang menepuk pundak Himchan. “ada apa? Katanya kau mencariku??” tanya si pemilik tangan sambil tetap memakan snack yang baru dibelinya. Nggak usah dikasi tau pasti sudah tahu kalau itu Woohyun.

“bukan aku, Suman songsaenim. Katanya ada anak baru dikelas ini, kau dipanggil beliau.” Jawab Himchan pendek sambil berdiri. “aku mau.” Ujar Himchan kemudian sambil mengambil sejumlah snack dari tangan Woohyun.

“eh, ambilkan aku juga. Aku minta ya …” sahutku.

“Pak S sedang ada dimana?” tanya Woohyun.

“di ruang TU. Cari aja.” Jawab Himchan.

Setelah Woohyun pergi, aku dan Himchan kembali membicarakan topik semula.

“kenapa kau sudah tidak menyukainya? Kau move on?”

“aku fokus UN.” Jawab Himchan pendek. Orang yang satu sekolah dengan Himchan semasa SMP pasti tahu apa maksud dari kata kata itu.

Aku tertawa. “kau sudah kelas berapa Kim Himchan, belom waktunya pakai alasan fokus UN seperti caramu memutuskan Naeun dulu…”

Himchan murung, “ternyata susah mencari orang seperti Naeun. Susah sekali…”

Aku memukul paha Himchan “siapa suruh meng-PHP dia?”

“aku..”

“siapa suruh bikin Naeun cemburu?”

“aku..”

“siapa suruh memutuskan Naeun?”

“aku..”

“siapa suruh bikin Naeun nangis?”

“aku..” Kepala Himchan mendongak. “bukan semuanya salahku.” Lanjutnya.

“terus, siapa lagi?” tanyaku.

Himchan menatapku sinis. “siapa yang menjodohkanku dengannya?”

Aku tertegun. Rupanya Himchan masih ingat hal itu. “aku tahu. Tapi itu kan hanya permainan Truth or Dare.”

“tetap saja kau mempermainkan perasaan temanmu…”

“kan aku hanya memberimu tantangan untuk berpacaran dengan Naeun. Bukan meng-PHP dia..”

“tetap saja. Kan awal dari PHP itu pacaran.”

“kan yang pacaran kamu, bukan aku.”

“kan yang suruh kamu.”

“yang pacaran kamu. Yang mutusin kamu. Yang PHP-in kamu. Semuanya salahmu tau.”

“yang menjodohkan kamu. Yang ngawali main kamu. Yang ngasih tantangan kamu. Apa lagi?”

“pokoknya kamu yang salah.”

“kamu lah…”

“kamu!”

“kamu!”

“kamu!”

“kamu!”

“kalian berdua!” ujar Namjoo tiba tiba sambil mengangkat tangannya. “kalian ini, bertengkar aja terus. Jangan lupain loh, cinta berawal dari kebiasaan.”

“kan itu kamu sama Woohyun.” Ujar Himchan. “nggak berlaku buat kita.”

“iya.” Jawabku menyetujui Himchan.

“siapa yang tahu takdir. Kita kan nggak tahu.”

Aku dan Himchan hanya terdiam.

“Hei Namjoo!” panggil seseorang teman, Daehyun. “kau makan apa sampai bisa menghentikan pertempuran mereka?” tanyanya.

“kau tanya aku? Tentu saja aku makan nasi. Masa makan kawat?” tanya Namjoo.

Semua orang tertawa. Sampai suara bell yang nyaring berbunyi. Seorang guru –yang namanya Pak S tadi—, Woohyun, dan seseorang yang lainnya masuk kekelas. Woohyun duduk di bangku didepanku.

“anak anak.” Ujar Pak S membuka pertemuannya.

“iya bapak bapak.” Jawab seisi kelas. Memang kelas X-D sangat suka mempermainkan guru.

Pak S tertawa. “ini, ada teman baru. Kenalkan namanya Kim Myungsoo.”

“annyeong, Kim Myungsoo Imnida.”

Degg…

Aku pernah mendengar suara itu, aku pernah melihat wajah itu. aku pernah melihat senyum itu. Dan, aku pernah mendengar nama itu. Dia…

~~~

“Kim Myungsoo?” panggilku disaat istirahat. Siswa baru itu hanya membaca buku sedari tadi.

Wajah itu menoleh kearahku. “siapa?” tanyanya.

“aku Kim Yuji. Sepertinya aku pernah melihatmu.. tapi dimana?” Tanyaku.

“Kim Yuji? Kau Kim Yuji??” tanya Myungsoo sambil beranjak dari tempat duduknya.

“iya, aku Kim Yuji. Ada apa?” tanyaku.

“siapa nama Kakakmu?” tanyanya.

“Kim Sunggyu. Kenapa? Ada yang aneh?”

“kau benar kau!!” tanpa sadar Myungsoo memelukku. “kau tahu, aku sangat ingin bertemu denganmu.” Myungsoo melepas pelukannya. “aku Myungsoo, kita pernah bermain bersama waktu kecil.”

“myungsoo? Sepupu Sungyeol dan Sungjong?” tanyaku.

“iyya! Ish, bagaimana kabarmu?” tanya Myungsoo sambil tersenyum.

“aku baik baik saja..”

Dan sedetik kemudian kami sudah membicarakan masa kecil yang bahagia tanpa melihat setitik api yang mulai membara dihati orang yang sama sekali tidak kusadari.

~~~

Himchan pov

Sepulang sekolah, Yuji masih saja ngobrol dengan Myungsoo. Woohyun dan Namjoo pun ikut mencampuri percakapan mereka. Sedangkan aku lebih memilih ngobrol dengan Daehyun dibelakang mereka.

“ya, Kim Himchan!” teriak Daehyun yang sukses membuat mereka berempat menoleh.

“ya! Jung Daehyun! Aku tahu suaramu beroktaf oktaf tingginya. Tapi jangan berteriak padaku seperti itu! aku bisa tuli!”

Keempat orang itu kembali ke percakapan mereka. Namun, Myungsoo menoleh kearahku dan berkata, “dari tadi kita belum berkenalan. Kau Kim Himchan kan? Presiden sekolah, Ketua kelas sekaligus sahabat Yuji itu kan?”

Aku berusaha tersenyum kearahnya. “iyya, senang berkenalan denganmu Kim Myungsoo..” jawabku.

“aku juga” jawabnya sambil tersenyum. Walaupun wajahnya cerah, sepertinya dia memendam sesuatu yang tidak ingin ditunjukkannya padaku. Dan aku pun juga seperti itu.

~~~

Yuji  pov

Saat Myungsoo berbicara dengan Himchan, aku merasa ada sesuatu yang mereka berdua sembunyikan. Baik Myungsoo maupun Himchan. Namjoo, Woohyun, dan Daehyun juga merasakan hal yang sama. Apalagi manusia indigo bernama Daehyun itu. Saat kutanya tentang perkenalan yang mereka lakukan, Daehyun menjawab, “Aku baru saja akan bertanya hal itu padamu.”

“menurutmu, apa yang terjadi pada mereka? Beberapa hari ini pun mereka hanya berbicara seperlunya.”

“diawal bertemu, aura Himchan mulai berubah menjadi abu abu. Begitu juga Myungsoo, saat mendengar cerita bahwa kau dekat dengan Himchan dari Namjoo, auranya berubah menjadi abu abu.”

“jadi?” tanyaku padanya.

“sepertinya mereka, dan alasannya..” ucapan Daehyun mulai aneh.

“apa? Kau kan tahu hal seperti itu…”

“aku memang indigo. Tapi bukan berarti aku dukun. Kesimpulan dari semua ini itu, mereka saling tidak menyukai..”

Dahiku mengkerut. “alasannya?”

“sepertinya doa Namjoo didengar Tuhan.”

“doa apa?” tanyaku pada Daehyun. Dan aku makin penasaran saat Daehyun tersenyum padaku.

~~~

Tidur Himchan terganggu buyi ringtonenya sendiri. Sebuah telepon dari nomor tak dikenal.

“yoboseyo?”

“hei, Kim Himchan. Kuperingatkan jangan dekat dekat Yuji-ku. Oke gak?” dan panggilan itu terputus.

“hallo?? Hallo???”

Dan Himchan pun kembali ditemani sunyi.

~~~

Author pov

Keesokan harinya disekolah, Himchan mulau menjauhi Yuji. Bukan karena telepon itu, namun karena perasaannya sendiri. Himchan ingin membunuh perasaannya pada Yuji. Dia bahkan tidak mengajak Woohyun menjauh, namun mengajak Daehyun yang duduk dengan Dongwoo untuk bertukar tempat. Sehingga, Woohyun duduk dengan Daehyun, sementara Himchan diduduk dengan Dongwoo.

Sementara Yuji yang melihat perubahan ini semakin bingung atas kelakuan sahabatnya, Himchan. Dia teringat atas kata kata Daehyun. Matanya yang mengarah pada Himchan berpindah pada Namjoo yang duduk disebelahnya.

“ya, namjoo. Kau pernah berdoa apa tentang aku dan Himchan?” tanya Yuji.

Wajah Namjoo mulai memucat, dia takut. Namjoo pernah kena marah Yuji dan dia takut Yuji marah padanya lagi.

“ya, namjoo,” panggil Yuji lagi. Walaupun Yuji berusaha selirih mungkin, tetap saja dia ketahuan gurunya.

Guru mata pelajaran Kimia bernama Park Jinyoung yang biasa dipanggil Pak P berteriak pada Yuji. “Kim Yuji! Cepat maju! Kerjakan soal ini!”.

Sementara Yuji yang benar benar tidak memperhatikan gurunya ini, mulai kebingungan. Dia tidak bisa. Apa yang harus aku lakukan?? Batin Yunji.

“Yuji! Cepat!”

“ne songsaenim.” Setelah dia maju, dia tidak melakukan apa apa, karena dia memang tidak bisa.

“sepintar apapun kamu di Fisika dan Matematika, kau tetap tidak akan bisa jika tidak memperhatikan guru. Kim Himchan, kerjakan soal ini.”

Himchan maju. Tanpa memperhatikan pandangan Yuji, dia mengerjakan soal dengan cepat. Setelah selesai, dia memberikan spidolnya pada Pak P, dan melewati Yuji begitu saja tanpa bilang apa apa.

Yuji kembali kebangkunya. Pandangannnya mengarah pada Himchan. Tidak biasanya Himchan seperti itu. Himchan bukan yang dulu lagi. Sejak SMP, jika Yuji tidak bisa mengerjakan soal, Himchan akan mengerjakan soal itu dan mulai menyindir Yuji dengan kata kata pedas. Namun karena kata kata Himchan itulah, Yuji menjadi lulusan terbaik nomor 2 setelah Himchan di SMPnya dulu.

Sampai istirahat pun, Himchan sama sekali tidak menyapa Yuji. Bahkan melihat saja tidak. Apalagi bergabung makan siang. Malah dua kali tidak mungkin. Sehingga Yuji, Namjoo, dan Woohyun mulai merindukan sosok hiperaktif Himchan. Sosok yang merupakan moodmaker sekaligus moodbreaker. Namun Yuji tidak berhenti disitu saja untuk menyelidiki perubahan sikap Himchan. Saat Himchan keluar kelas, Yuji mengikutinya.

Himchan menyadari bahwa dirinya diikuti seseorang. Kemudian dia berlari menghindari pengejar itu.

“ya! Kim Himchan!” teriak Yuji. Namun tetap saja Himchan berlari dengan cepatnya. Sampai masuk ke dalam perpustakaan. Yuji mengikuti Himchan dia masuk kedalam dan bertemu seseorang bernama Yoo Youngjae.

“ya, Youngjae. Apakah kau melihat Himchan?” Tanya Yuji.

“tidak, memangnya kenapa?” tanya Youngjae.

“tidak apa apa…” Yuji mulai melangkah keluar perpustakaan. Kemudian dia berbalik. “youngjae, aku ingin bertanya padamu.”

“tentang apa? Himchan?”

“iya, apa kau tahu alasannya merubah sifatnya?”

“aku tidak tahu, dia sama sekali tidak cerita padaku. Yang pasti dia punya alasan.”

“dan kira kira apa kau tahu alasannya?”

Youngjae menggeleng. “mungkin Namjoo atau Woohyun atau Daehyun tahu.”

Yuji menghela nafasnya. “yasudah kalau begitu. Terima kasih Youngjae.”

Youngjae tersenyum. Sambil melihat punggung Yuji yang semakin jauh. Kemudian dia melihat kearah bawah. “sudah aman.”

“terima kasih Youngjae.” Ujar Himchan keluar dari tempatnya sembunyi.

“aku ingin tanya…”

“alasan aku berubah?” tebak Himchan dengan tepat. Youngjae mengangguk.

“aku tidak tahu. Sejak mendapat telepon dari Myungsoo, aku melihat Yuji lagi. Dia lebih sering tertawa dengan Myungsoo daripada denganku, jadi aku merasa kalau Yuji lebih bahagia dengan Myungsoo.” Jawab Himchan.

Youngjae mengangguk. “aku mengerti perasaanmu.” Ujar Youngjae sambil menepuk pundak Himchan pelan

Dihalaman sekolah, Myungsoo menarik tangan Yuji. Ingin bicara katanya. Setelah beberapa langkah dari bangunan terbelakang di sekolah mereka, Myungsoo membalikkan tubuhnya.

“hei, Yuji. Aku ingin bicara sesuatu padamu.”

“apa?” tanya Yuji.

“aku suka kamu. Sudah sejak kita bertemu beberapa hari yang lalu… jadi apa kau mau menjadi pacarku?” tanya Myungsoo

Yuji terdiam. Dia menoleh kearah sekelilingnya. Setelah merasa aman, Yuji membisik, “akan aku pikirkan.” Dan membuat Myungsoo tersenyum.

Namun, aman itu kan menurut Yuji. Padahal ada dua orang dibawah pohon terdekat tempat mereka berdiri.

“ya, apa kita tidak pulang? Aku sudah lapar.” Ucap Junhong.

Himchan menoleh kearah sepupunya itu. kemudian menoleh kearah Yuji dan Myungsoo. “baiklah, ayo pulang.”

“tidak untuk sekarang Kim Himchan… aku ada urusan denganmu…”

Himchan menoleh, dan sesuatu yang buruk terjadi.

~~~

Sepulang sekolah, Yuji mendapat kakaknya tertawa sendiri seperti orang gila.

“ya, oppa, apa kau sudah gila? Kau tertawa tertawa sendiri dari tadi…”

Sunggyu melihat kearah adiknya. “cepat ganti baju, kemudian ikut aku.”

Yuji melihat kakaknya penuh curiga, “ada apa ini?”

“sepertinya temanmu sudah bertaubat. Aku akan membuat pesta untuk merayakannya” Ujar Sunggyu sambil memberikan sebuah foto pada Yuji.

Mata Yuji terbelalak melihat foto itu. matanya  beralih menatap kakaknya.

“oh iya, aku tadi membaca diarymu. Maaf lancang. Tapi kalau aku jadi kamu, aku lebih pilih Himchan daripada Myungsoo.” Yuji terdiam. Menunduk.

“yah, aku tahu. Cinta pertama susah dilupakan. Tapi, ini untuk kebaikanmu sayang…” lanjut Sunggyu sambil mengelus rambut panjang Yuji.

“tapi kenapa Himchan? Beberapa hari yang lalu, dia mulai menjauhiku…”

“Woohyun dan Namjoo pasti tahu alasannya. Dan alasannya menyangkut dirimu juga…”

Yuji mengadah. Menatap kakaknya sambil tersenyum. “thanks my bigbro.”

Sunggyu tersenyum. “urwell my littlesister…”

Yuji berlari kearah kamarnya.  “tunggu aku! Aku ikut!”

Sunggyu berteriak tak kalah hebohnya, “cepetan, bentar lagi aku ada syuting!”

~~~

Keesokan harinya…

“pagi semua!!!! Morning everibodieh!!!” teriak Yuji didepan pintu.

Namjoo melihat kearah sahabatnya yang satu itu. “kau kenapa? Absurd tau nggak.”

Yuji menoleh kearah sahabatnya. “samting sepesial yu now… ntar itu aku ke sekertariatan tim mading aku pengen menempelkan sesuatu. Bukan cuman aku sih, tapi aku, Sunggyu oppa, Yongguk oppa, Chorong unnie, Minhyuk oppa, Changsub oppa, dan Dongwoo”

“kenapa anak kelas XII semua??” tanya Namjoo.

Yuji tersenyum. “lihat aja. Orang yang mau aku tempel semacam ini.” Kata Yuji sambil memberikan foto yang diberikan Sunggyu kemarin siang.

Namjoo tertegun, itu foto Myungsoo dan Eunji sedang berpegangan tangan. Sepertinya mereka kencan. “kau sudah tidak suka dengan Myungsoo??”

“sepertinya sudah tidak lagi.” Jawab Yuji enteng.

“ kau dengan mudahnya bilang jika kau sudah tidak suka dengan Myungsoo? Kalau aku jadi kau, aku akan berpikir lebih dahulu. Karena hal ini, yang kau lakukan ini sudah menyakiti hati seseorang yang paling dekat denganmu…” ujar Namjoo kelepasan. Namjoo langsung menutup rapat mulutnya dengan tangannya.

“orang yang dekat denganku? Maksudmu Himchan?” tanya Yuji.

~~~

Namjoo pov

Mampus, aku pake kelepasan segala lagi. Ke Yuji juga. Bahaya kalau dia sampai marah, jangan sampai rahasia Himchan ketahuan Yuji! Ya Tuhan, tolong berikan aku jalan…

Tapi, kalau aku memberitahukannya pada Yuji, kan masalah ini selesai… ah tidak, jangan. Aku bisa kena marah Himchan nanti. Tapi, Himchan dan Yuji, ugh, kenapa mereka sama sama menakutkan???

“ya, Kim Namjoo, tolong beri tahu aku. Aku benar benar kebingungan sekarang…” ujar Yuji.

“bingung kenapa?” tanyaku pelan.

“dua hari yang lalu, aku tanya pada Daehyun. Dia bilang kau tahu alasan kenapa Himchan berubah. Kemarin, di perpustakaan aku bertemu Youngjae. Dan dia bilang antara kau, Woohyun, dan Daehyun tahu alasan Himchan. Dan Oppa, juga bilang kalau antara kau dan Woohyun tahu alasan Himchan…”

“Oppamu? Sunggyu oppa? Sunggyu sunbaenim tahu hal ini?” aku segera menutup mulutku sendiri. Lagi.

Mampus! Dasar Kim Namjoo!

~~~

Author Pov

Dahi Yuji mengkerut. “hal ini? Kau tahu alasannya bukan? Cepat katakan padaku” paksanya.

Namjoo hanya menghela nafasnya. Tidak menjawab perkataan Yuji. Matanya mengarah kebawah. Tidak berani menatap mata Yuji.

Yuji merasa menanyai Namjoo bukanlah hal yang tepat. Yuji beranjak dari tempatnya duduk.

“ya, Kim Yuji, kau mau kemana?” tanya Namjoo lirih.

“keluar. Cari angin.” Jawab Yuji pelan. Kemudian, dia mulai melangkah.

Seseorang menahan tangan Yuji. Woohyun.

“aku akan menceritakannya. Dan juga termasuk alasan Himchan tidak masuk hari ini.”

“Himchan tidak masuk?”

~~~

“ya, apa kita tidak pulang? Aku sudah lapar.” Ucap Junhong.

Himchan menoleh kearah sepupunya itu. kemudian menoleh kearah Yuji dan Myungsoo. Yuji sudah tidak ada disana. “baiklah, ayo pulang.”

“tidak untuk sekarang Kim Himchan… aku ada urusan denganmu…”

Himchan menoleh. Dan dia langsung mendapat bogem mentah dari Myungsoo.

“mengapa kau ada disini? bukannya aku sudah bilang, jangan dekati Yuji-ku lagi.”

Himchan mengelus elus pipinya yang mulai membiru. “aku tidak mendekati Yuji-mu. Aku hanya kebetulan lewat disini.”

Myungsoo tersenyum. “menurutmu, aku percaya?”. Myungsoo bersiul keras. “nah, aku ada hadiah untukmu.” Dan mata Himchan membulat.

Dari belakang kelas bahasa, muncul 6 orang siswa kelas XI-IPS 5 yang terkenal nakal. Mereka adalah Yoon Doojoon, Jang Hyunseung, Yong Junhyung, Yang Yoseob, Lee Gikwang, dan Son Dongwoon.

Himchan memandang Dongwoon tak percaya. Dia tidak percaya akan bertemu orang itu lagi.

“kaget? Tidak percaya?” tanya Dongwoon. “aku bahkan lebih tak percaya orang sepertimu akan melukai adikku Son Naeun.”

“Hyung, akku…”

Myungsoo tersenyum. Jari telunjuknya menunjuk Himchan. “hajar dia.”

Sedetik kemudian, keenam orang itu sudah memukuli, menendang, dan melakukan kekerasan terhadap Himchan. Sementara Junhong hanya melongo melihat kakak sepupunya yang tengah dikeroyok manusia manusia berbadan besar itu.

“yuji-ku? Yuji-mu? Apa maksudnya?” tanya Yuji memotong cerita Woohyun.

“Myungsoo menyukaimu. Dia selalu berkata ‘yuji-ku’” ujar Namjoo.

“dan, siapa Junhong?” tanya Yuji lagi.

“Choi Junhong. Adik sepupu Himchan. Dia anak kelas 8 SMP sebelah.” Jawab Woohyun.

~~~

“sebulan terakhir, eh bukan. Dua minggu terakhir, sikap Himchan hyung sangat aneh. Biasanya, dia akan menggangguku belajar. Kadang menelepon, SMS dan semua itu tidak penting. Kalau pulang sekolah juga hyung sering sekali mencubit pipiku, hidungku, bahkan juga memencet hidungku sampai aku sulit bernafas. Tapi 2 minggu belakangan, hyung tidak pernah melakukan itu padaku.” Jelas Junhong di sebuah kafe di dekat sekolahnya.

“tidak pernah?” tanya Yuji.

“iya, tidak pernah. Sama sekali tidak pernah. Karena aku penasaran, kemarin aku pergi kesekolah nunna. Dan aku menemukan hyung sedang berdiri dibelakang sebuah pohon.” Sambung Junhong.

“kemudian?” tanya Yuji.

“aku menepuk bahunya. Kemudian aku bertanya, ‘ya, hyung sedang apa kau disini?’. himchan hyung bilang, ‘sebentar Junhongie, hyung sedang memperhatikan sesuatu.’ Kemudian, aku melihat kearah pandangan Himchan hyung. Aku melihat nunna dan namja itu. kemudian aku duduk disebelah hyung berdiri. Saat nunna pergi, aku bertanya pada Himchan hyung, ‘ya, apa kita tidak pulang? Aku sudah lapar.’ Dan saat hyung mengajakku pulang, terjadi pengeroyokan itu.” jelas Junhong panjang lebar.

Yuji berdiri. Berjalan menuju pintu. Keinginannya adalah melihat sekaligus mematahkan hidung Myungsoo. Bagi ketua ekskul taekwondo dan karate, tidak ada kata tidak mungkin di kamusnya. Tidak ada yang bisa menghentikannya, kecuali...

“nuna, tadi kau janji untuk membayarnya kan??”

~~~

“ya! Kim Myungsoo!”

“ne???” tanya Myungsoo tanpa melihat siapa yang memanggilnya.

“apa yang kau lakukan pada Himchan??”

“Himchan? Siapa Himchan? Pecundang kakap merah itu?? Sudah jangan ganggu aku. Aku sedang menikmati bermain UNO dengan kakak kakak ini.” Jawab Myungsoo mengundang tawa Yoon Doojoon, Jang Hyunseung, Yong Junhyung, Yang Yoseob, Lee Gikwang, dan Son Dongwoon.

Yuji semakin naik darah saja. Darahnya sudah mencapai ubun ubun. “YA! KIM MYUNGSOO!! KALAU JAWAB LIHAT ORANGNYA!!” Teriak Yuji.

“sudahlah nak, jangan ganggu bos kami...” kata kata Junhyung terbutus sembari dia menoleh kepalanya kearah sumber suara. Keringat dinginnya menetes seketika.

“mampuss...” sambung Junhyung. Junhyung segera meletakkan kartunya diatas meja sambil berkata, “aku mundur, aku mau kabur.” Dan segera pergi dari ruangan itu. Dan setelah kelima sahabatnya tahu pemilik suara, mereka langsung pergi sambil membawa kartu mereka.

“Eh sialan aku ditinggal sendiri. Mana kartuku dibawa lagi..” ujar Myungsoo sambil menoleh. “kkau... eeh, hai Yuji.”

Yuji tersenyum sinis, “tadi kau bilang Himchan apa? Pecundang kakap merah?”

Myungsoo tersenyum, “iya, aku benar kan, Yuji-ku yang manis??”

“Yuji-ku?”

“...”

“katakan sekali lagi”

“...”

“katakan sekali lagi!!”

“...”

“sudah kubilang, KATAKAN SEKALI LAGI!!!!!!!”

“...”

Yuji mendekati Myungsoo, tak peduli berapa banyak orang datang karena teriakannya. Tak peduli itu teman, kakak kelas, kakaknya sendiri, guru, ataupun kepala sekolah sekalian.

Yuji mulai membuat bunyi bunyi aneh dari tulangnya.

“kau tau, apa yang sudah kau lakukan itu salah. Menghajar ketua osis dengan kakak kelas, membuat koloni rahasia dan berbahaya....”

“koloni berbahaya??” Putus Myungsoo sambil bergerak mundur.

“Yoon Doojoon, Jang Hyunseung, Yong Junhyung, Yang Yoseob, Lee Gikwang, dan Son Dongwoon. Mereka anggota geng kan? Itu berbahaya, kau tahu??”

Myungsoo tersenyum, “kau memperhatikanku ya?”

“kau bilang memperhatikanmu?” Satu pukulan tangan mendarat dengan mulus di pipi Myungsoo.

“ini yang kau sebut memperhatikan??” satu lagi di perut Myungsoo yang berhasil membuatnya jatuh terduduk.

“aku memang memperhatikan. Tapi memperhatikan Eunji yang kencan dengan superhero kelas bakteri sepertimu.” Satu lagi di pelipis Myungsoo yang langsung heboh membiru.

“dan ini hadiah terakhir untukmu...” satu lagi dan yang terakhir di tujuan utamanya. Hidung.

~~~

Sore yang indah... hari yang indah untuk Yuji pergi menjenguk Himchan. Yuji mengingat kembali apa yang diceritakan Woohyun tadi siang.

“Himchan menyukaimu Yuji-a, sangat menyukaimu. Tapi dia berpikir bahwa kau lebih suka bersama Myungsoo daripada bersamanya.”

Atau kata kata Sunggyu kemarin sepulangnya dari bersenang senang

“Himchan jauh lebih baik daripada Myungsoo. Aku lebih percaya jika kau bersamanya.”

Atau ucapan Junhong, yang dianggapnya masih kecil itu.

“ketika aku masuk kamar Channie hyung, dikamarnya begitu banyak foto seorang gadis. Aku selalu saja bertanya pada hyung, siapa gadis itu. Dan sekarang aku tahu. Gadis itu ternyata ada didepanku.”

Yuji berjalan sampai depan kamar inap Himchan. 194. Tanggal lahir Himchan, batin Yuji.

Yuji mengetuk pintu perlahan. “Masuk” ujar yang didalam ruangan.

Yuji membuka ruangan itu. Tidak terlalu luas. Namun terlihat nyaman. Himchan duduk di tepi ranjangnya.

“baikan?”

“uummm..”

“...”

“haah... aku, jadi iri pada Woohyun.”

“iri? Iri kenapa?”

“karena bisa melihatmu menghajar Myungsoo dan membuat anggota geng itu lari ketakutan. Aku yakin pasti terlihat sangat keren.”

“sebenarnya, aku masih ingin memukul seseorang.”

Himchan menoleh. “siapa?”

“seseorang yang -kata sepupunya- dihajar sampai bonyor, dan gak ngasi tau sahabatnya sendiri. Yang membuat sahabatnya itu merasa kesepian karena nggak ada yang mengacaukan hidupnya yang tenang.”

Himchan mengerti maksud Yuji. Orang itu adalah dirinya sendiri. “sahabatnya itu memiliki kehidupan yang tenang kan kalau orang itu tidak mengacaukannya? Kenapa sahabatnya merasa kesepian saat tidak ada orang itu?”

“karena orang itu adalah orang yang mewarnai hidupnya.”

“tapi bagaimana jika orang itu menjauhi sahabatnya karena... ” ucap Himchan terputus. “Maaf, aku hanya...”

“aku tahu. Speaking choro.” Jawab Yuji. “kau ini, pintar matematika, tapi kau tidak tahu sesuatu tentang sahabat orang ini.”

Himchan melihat Yuji dengan tampang kebingungan. “apa hubungannya dengan matematika?”

“semua persamaan pasti ada penyelesaiannya kan? Jawaban paling mudah adalah satu penyelesaian.”

“satu penyelesaian?”

“yes. Dan penyelesaian itu ada pada jawaban dari sebuah pertanyaan.”

“maksudmu?

“Bagaimana jika sahabatnya menyukai orang ini?”

“haah??” Himchan hanya mengedipkan kedua matanya tanda tak mengerti.

Yuji tersenyum. Yuji beranjak pergi, “aku pulang dulu, udah sore” Yuji membuka pintu, bermaksud pulang.

“hei kau yang diambang pintu.”

Yuji menoleh, sebuah pesawat kertas jatuh tepat didepannya. Yuji membuka pesawat kertas itu.

Kosong

“himchan-ah, kau...”

Himchan tersenyum.

“apa maksudmu dengan kertas kosong?”

“aku hanya takut kau meninggalkanku saat aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Ini.” Himchan memberikan sebuah gulungan kertas pada Yuji.

Yuji mengambil kertas tersebut.

Kosong juga

“ya! Apa maksudmu?”

Himchan menarik Yuji jatuh ke pelukannya. Himchan mencium kening Yuji.

“aku janji, besok aku akan mengajakmu ke suatu tempat.”

“buat apa?”

“udahlah ikut saja.”

~~~

Esok siangnya, Himchan menunggu Yuji di depan gerbang sekolahnya.

“ya! Himchan!”

Himchan menoleh. Woohyun dan Namjoo.

“hngg?”

“kenapa belum masuk?”

“suka suka dong. Ngg...”

“Yuji?” tebak Namjoo.

Himchan mengangguk.

“tuh belakangmu.”

Himchan menoleh.

Yuji, tangan kanan buku paket fisika dan kamus. Tangan kiri buku paket kimia dan biologi.

Ni anak bawaannya banyak banget sih?. Batin Himchan.

Melihat Yuji kerepotan membawa buku, Himchan mengambil semua buku itu.

“ayo.” Ujarnya sambil menarik Yuji pergi dan berlalu melewati Woohyun dan Namjoo.

~~~

Himchan terdiam, Yuji juga terdiam.

“yuji-a, kamu sudah tahu semuanya kan? Junhong sudah cerita semuanya kan? Apa alasanku menjauhimu, apa yang menyebabkanku berusaha menghapusmu dari ingatanku, dan apa...”

“aku tahu.” Potong Yuji. “tapi, kalau kita jadian dan putus tengah jalan, apa persahabatan kita juga ikut putus?”

“nggak, aku jamin.”

“kenapa, kamu seyakin itu?”

“karena aku takut kehilangan kamu.”

Yuji terdiam. “aku...”

“kenapa? Tanya apa aja, terserah kamu.”

“kalo kita pacaran terus jailin kamu?”

“boleh kok.”

“teriak teriak didepanmu?”

“boleh.”

“ngambil makan siangmu?”

“boleh.”

“Nendang? Banting? Nonjok?”

“jangan coba-coba”

Yuji tersenyum. “aku...”

~~~

“udah sore, ayo pulang.” Ajak Himchan.

“gak mau, aku pengen sama kamu.” Jawab Yuji.

“kalau kamu dimarain mama kamu?”

“aku bakal bilang ‘diajak makan Himchan’ jadi dia nggak akan marah.”

“yuji...”

“nggak”

“yuji...”

“nggak mau”

“yuji... kamu mau bayarin semuanya?”

“yaudah, ayo pulang. Anterin ya, my special one.”

“jangan panggil gitu. Panggil Himchan aja.”

“ah ne~~”

~~~

Malamnya Yuji membuka Diarynya yang sudah 2 minggu tidak dibukanya. Dibacanya tulisannya tentang Myungsoo, Cinta pertamanya –Myungsoo juga-, teman masa kecilnya –Myungsoo lagi-, dan teman sebangkunya –lagi lagi Myungsoo-. Ditulisnya...

Dear diary, hari ini aku baru sadar. Aku bukan orang yang mendapatkan kebahagiaan dari cinta pertamaku. Aku baru sadar aku dan Myungsoo bukanlah Romeo dan Juliet yang saling mencintai sampai mati. Myungsoo tidak sesempurna itu. Dia bahkan lebih buruk dari yang aku kira. Ketika aku berpikir dia sangat sempurna, ternyata dia malah menampakkan keburukannya.
Sedangkan Himchan, sejak kemarin, dia membuatku merasa bahagia. Apalagi tadi siang. Dia bukan orang yang menyebalkan seperti yang dulu, Himchan sangat baik sekarang. Dia mentraktirku –itu yang utama-, mengantarku pulang, dan –yang paling penting- membuatku melupakan Myungsoo.
Tuhan, biarkan Himchan disisiku untuk selamanya. Dia segalanya bagiku sekarang. Terimakasih, Kau telah mengirimkannya padaku. Maafkan aku yang tidak menyadari keberadaannya selama hampir 4 tahun.
Himchan, maafkan aku. Maafkan aku telah menyakitimu selama ini. Maafkan aku telah terlambat menyadari perasaanku sendiri padamu. Aku menyukaimu Himchan-sswi

Tepat setelah Yuji menutup diarynya, hpnya berbunyi.

Neowa gadeon keopisyop
Uri dulmanui keopisyop
Ni hyanggiga naneun igoseseo
Meonghani anjaisseo

Yuji menjawab teleponnya

“yoboseyo?”

yoboseyo, Yuji-a”

Yuji tersenyum lebar. Hatinya berbunga bunga.


“ne? Himchan-a??”










otokek otokek otokek??? ajukan keluhan juseyooooo......
bai the wai, perkenalkan anda bisa memanggil saya Ms. Jung
wkwkwkwk...