Hai, gue lupa masa mau ngelanjutin ff yang 1004 itu. Mending gue post dari awal sampai the end nya aja ya. okesip.
1004
Cast :
- Kim Yuji (oc)
- Kim Himchan
- Kim Myungsoo
Precast :
- Banyak
WARNING! TYPO EVERYWHERE! JAN SALAHKAN SAYA JIKA ANDA MENEMUKAN TYPO TYPO YANG ARTISTIK/?
12 tahun yang lalu…
“annyeong, Kim Yuji imnida…” salam
seseorang yeoja kecil pada seorang namja kecil di sebuah taman bermain di TKnya. Yeoja itu sepertinya
baru saja masuk di sekolah TK itu.
“ah, annyeong, Kim Myungsoo
imnida…” jawab namja itu.
“senang bertemu denganmu
Myungsoo-ssi…”
“senang bertemu denganmu juga
Yuji-ssi. Ayo bermain bersama…”ajak namja itu sambil tersenyum.
~~~
Yuji pov
Rasanya aku ingin kembali ke masa
TKku saja. Bertemu dengan pangeran pujaanku yang pernah mengajakku bermain
untuk yang pertama kalinya. Bertemu dengan seseorang yang bernama Kim Myungsoo.
Berhadapan dengannya. Memandang senyum manisnya. Rasanya sekarang aku ingin
terbang, memutar waktu dan…
“ya! Kim Yuji!” teriak seorang
namja sambil menggebrak mejaku. Kim Himchan.
Hmm… sepertinya impianku sia sia
saja. Yang terlihat didepanku bukanlah Kim Myungsoo. Namun Kim Himchan,
sahabatku, musuhku, ketua kelasku, bahkan presiden sekolahku. Hmmm… sebenarnya
apa yang dipilih dari orang yang menyebalkan seperti dia??
“apa?” tanyaku pada Himchan.
Melihat nada jawabanku padanya, terlihat sekali bahwa kami sering bertengkar.
“mana Woohyun? Bukannya tadi kau
bersamanya?”
“wakilmu itu? mana kutahu, mungkin
dia sedang berjalan jalan dengan Jongup.” Jawabku asal sambil mulai memasang
earphone di telingaku.
“dasar Nam Woohyun. Disaat yang
diperlukan seperti ini dia malah tidak ada…” ujar Himchan. Kemudian dia menoleh
ke arahku, “hei, Yuji!”
…
“yuji!”
…
“Yuji!!!”
…
“YUJI!!!”
“Apa??” tanyaku kaget sambil
melepas earphoneku.
“tidak bisakah kau melepas
earphonemu dan mendengarkanku?” tanya Himchan keki.
“aku sudah melepas earphoneku.
Sekarang bicaralah…” jawabku tenang.
“ish.. katakan pada woohyun kalau
dia kutunggu di ruang auditorium. Dan, apakah kau tahu dimana orang yang
menyukai kakakmu itu??” tanya Himchan usil.
“siapa?”
“siapa lagi orang yang menyukai
Kim Sunggyu selain Jung Eunji??” tanya Himchan sedikit tertawa.
Jung Eunji. Siswi kelas X-A yang
terkenal glamour, sok cantik, dan –yang paling utama—menyukai Kim Sunggyu,
kakakku yang berada di kelas XII-IPA1. Kakakku merupakan pendamping kelasnya
sewaktu kami menjalani Masa Orientasi.
Bahkan dia –Eunji—pernah menyuruhku untuk tidak dekat dekat dengan Sunggyu
oppa. Dan alhasil, dia sendiri yang menanggung malu saat istirahat waktu itu.
~~Flashback~~
Jam istirahat tanggal 15 bulan lalu, aku duduk di sebuah kursi di
kantin dengan Himchan, Woohyun, Daehyun dan Namjoo. Saat aku sedang bercanda
dengan Himchan…
“yo, Yuji!!!” panggil seorang sunbaenim, Bang Yongguk.
“ne oppa?” tanyaku, sambil
berdiri.
“kau dipanggil Sunggyu! Ada
sesuatu yang ingin dia berikan katanya.” Jawab Yongguk oppa.
“oh, ne!” jawabku sambil
berlari kearah Yongguk oppa.
15 menit kemudian…
“ada masalah apa??” tanya Namjoo padaku.
“ini,” jawabku sambil menunjukkan sebuah tas laptop –berisi laptop
pastinya—dan sejumlah uang.
“kau belum diberi uang saku?
Sampai harus minta pada Sunggyu sunbae??” tanya Himchan sambil tertawa.
“belum! Tadi uangnya dikorupsi sunggyu oppa…” jawabku tanpa sadar kalau
Eunji ada dibelakangku.
“apa kau bilang? Sunggyu
oppa korupsi?” tanya
Eunji.
Aku membalik badanku. “oh hai eunji.” Sapaku malas.
“kau tadi bilang apa?
Sunggyu oppa korupsi? Bukannya kau yang harus dituduh seperti itu?” tanya Eunji
sinis. “lihat, kau bahkan memaksa seorang sunbae meminjamkan laptopnya untuk
orang sepertimu.” Sambung Eunji.
“ kenapa? Kau iri?” tanyaku.
“iri padamu? Untuk apa? Lihat
saja, pasti mudah bagiku untuk mendekati Sunggyu sunbaenim. Tidak
sepertimu yang menggunakan cara yang tidak baik.”
“tidak baik??” tanya seseorang dibelakang Eunji.
Melihat kedatangan Sunggyu oppa, Eunji langsung menghambur memeluk tangan oppa sambil pura pura
menangis. “oppa, tadi dia menamparku.”
Sunggyu oppa melepaskan tangannya sambil berkata, “bukannya kau yang
bilang kalau cara Yuji tidak baik. Apa batasan saudara dianggap tidak baik??
Yuji adik kandungku. Bukan orang yang tidak penting sepertimu.”
~~~Flasback end~~~
Aku memanyunkan bibirku mendengar
namanya. “mungkin dia sedang ganti
kulit.” Jawabku asal.
Himchan tertawa. “selain itu, dia bisa saja sedang melolong ke kakakmu
‘oppa, plis, pinjami aku laptopmu… sekali ini saja’” ujar Himchan sambil
menirukan gaya Eunji yang manja –alias praktek aegyo-.
Aku tertawa. Aku benar benar tidak
menyangka reaksi Himchan berlebihan seperti itu. “katamu kau menyukainya.”
Himchan berhenti tertawa, dia
duduk disebelahku. “sejak sebulan yang lalu, aku tidak menyukainya lagi..”
Seseorang menepuk pundak Himchan.
“ada apa? Katanya kau mencariku??” tanya si pemilik tangan sambil tetap memakan
snack yang baru dibelinya. Nggak usah dikasi tau pasti sudah tahu kalau itu
Woohyun.
“bukan aku, Suman songsaenim.
Katanya ada anak baru dikelas ini, kau dipanggil beliau.” Jawab Himchan pendek
sambil berdiri. “aku mau.” Ujar Himchan kemudian sambil mengambil sejumlah
snack dari tangan Woohyun.
“eh, ambilkan aku juga. Aku minta
ya …” sahutku.
“Pak S sedang ada dimana?” tanya
Woohyun.
“di ruang TU. Cari aja.” Jawab Himchan.
Setelah Woohyun pergi, aku dan Himchan kembali membicarakan topik semula.
“kenapa kau sudah tidak
menyukainya? Kau move on?”
“aku fokus UN.” Jawab Himchan
pendek. Orang yang satu sekolah dengan Himchan semasa SMP pasti tahu apa maksud
dari kata kata itu.
Aku tertawa. “kau sudah kelas
berapa Kim Himchan, belom waktunya pakai alasan fokus UN seperti caramu
memutuskan Naeun dulu…”
Himchan murung, “ternyata susah
mencari orang seperti Naeun. Susah sekali…”
Aku memukul paha Himchan “siapa
suruh meng-PHP dia?”
“aku..”
“siapa suruh bikin Naeun cemburu?”
“aku..”
“siapa suruh memutuskan Naeun?”
“aku..”
“siapa suruh bikin Naeun nangis?”
“aku..” Kepala Himchan mendongak.
“bukan semuanya salahku.” Lanjutnya.
“terus, siapa lagi?” tanyaku.
Himchan menatapku sinis. “siapa yang menjodohkanku dengannya?”
Aku tertegun. Rupanya Himchan masih ingat hal itu. “aku tahu. Tapi
itu kan hanya permainan Truth or Dare.”
“tetap saja kau mempermainkan
perasaan temanmu…”
“kan aku hanya memberimu tantangan
untuk berpacaran dengan Naeun. Bukan meng-PHP dia..”
“tetap saja. Kan awal dari PHP itu
pacaran.”
“kan yang pacaran kamu, bukan
aku.”
“kan yang suruh kamu.”
“yang pacaran kamu. Yang mutusin
kamu. Yang PHP-in kamu. Semuanya salahmu tau.”
“yang menjodohkan kamu. Yang
ngawali main kamu. Yang ngasih tantangan kamu. Apa lagi?”
“pokoknya kamu yang salah.”
“kamu lah…”
“kamu!”
“kamu!”
“kamu!”
“kamu!”
“kalian berdua!” ujar Namjoo tiba
tiba sambil mengangkat tangannya. “kalian ini, bertengkar aja terus. Jangan
lupain loh, cinta berawal dari kebiasaan.”
“kan itu kamu sama Woohyun.” Ujar
Himchan. “nggak berlaku buat kita.”
“iya.” Jawabku menyetujui Himchan.
“siapa yang tahu takdir. Kita kan
nggak tahu.”
Aku dan Himchan hanya terdiam.
“Hei Namjoo!” panggil seseorang
teman, Daehyun. “kau makan apa sampai bisa menghentikan pertempuran mereka?”
tanyanya.
“kau tanya aku? Tentu saja aku
makan nasi. Masa makan kawat?” tanya Namjoo.
Semua orang tertawa. Sampai suara
bell yang nyaring berbunyi. Seorang guru –yang namanya Pak S tadi—, Woohyun,
dan seseorang yang lainnya masuk kekelas. Woohyun duduk di bangku didepanku.
“anak anak.” Ujar Pak S membuka
pertemuannya.
“iya bapak bapak.” Jawab seisi
kelas. Memang kelas X-D sangat suka mempermainkan guru.
Pak S tertawa. “ini, ada teman
baru. Kenalkan namanya Kim Myungsoo.”
“annyeong, Kim Myungsoo Imnida.”
Degg…
Aku pernah mendengar suara itu,
aku pernah melihat wajah itu. aku pernah melihat senyum itu. Dan, aku pernah
mendengar nama itu. Dia…
~~~
“Kim Myungsoo?” panggilku disaat
istirahat. Siswa baru itu hanya membaca buku sedari tadi.
Wajah itu menoleh kearahku.
“siapa?” tanyanya.
“aku Kim Yuji. Sepertinya aku
pernah melihatmu.. tapi dimana?” Tanyaku.
“Kim Yuji? Kau Kim Yuji??” tanya
Myungsoo sambil beranjak dari tempat duduknya.
“iya, aku Kim Yuji. Ada apa?”
tanyaku.
“siapa nama Kakakmu?” tanyanya.
“Kim Sunggyu. Kenapa? Ada yang
aneh?”
“kau benar kau!!” tanpa sadar
Myungsoo memelukku. “kau tahu, aku
sangat ingin bertemu denganmu.” Myungsoo melepas pelukannya. “aku
Myungsoo, kita pernah bermain bersama waktu kecil.”
“myungsoo? Sepupu Sungyeol dan
Sungjong?” tanyaku.
“iyya! Ish, bagaimana kabarmu?”
tanya Myungsoo sambil tersenyum.
“aku baik baik saja..”
Dan sedetik kemudian kami sudah
membicarakan masa kecil yang bahagia tanpa melihat setitik api yang mulai
membara dihati orang yang sama sekali tidak kusadari.
~~~
Himchan pov
Sepulang sekolah, Yuji masih saja
ngobrol dengan Myungsoo. Woohyun dan Namjoo pun ikut mencampuri percakapan
mereka. Sedangkan aku lebih memilih ngobrol dengan Daehyun dibelakang mereka.
“ya, Kim Himchan!” teriak Daehyun
yang sukses membuat mereka berempat menoleh.
“ya! Jung Daehyun! Aku tahu
suaramu beroktaf oktaf tingginya. Tapi jangan berteriak padaku seperti itu! aku
bisa tuli!”
Keempat orang itu kembali ke
percakapan mereka. Namun, Myungsoo menoleh kearahku dan berkata, “dari tadi
kita belum berkenalan. Kau Kim Himchan kan? Presiden sekolah, Ketua kelas
sekaligus sahabat Yuji itu kan?”
Aku berusaha tersenyum kearahnya.
“iyya, senang berkenalan denganmu Kim Myungsoo..” jawabku.
“aku juga” jawabnya sambil tersenyum. Walaupun wajahnya cerah, sepertinya
dia memendam sesuatu yang tidak ingin ditunjukkannya padaku. Dan aku pun juga
seperti itu.
~~~
Yuji pov
Saat Myungsoo berbicara dengan Himchan, aku merasa ada sesuatu yang mereka
berdua sembunyikan. Baik Myungsoo maupun Himchan. Namjoo, Woohyun, dan Daehyun
juga merasakan hal yang sama. Apalagi manusia indigo bernama Daehyun itu. Saat
kutanya tentang perkenalan yang mereka lakukan, Daehyun menjawab, “Aku baru
saja akan bertanya hal itu padamu.”
“menurutmu, apa yang terjadi pada mereka? Beberapa hari ini pun mereka
hanya berbicara seperlunya.”
“diawal bertemu, aura Himchan mulai berubah menjadi abu abu. Begitu juga
Myungsoo, saat mendengar cerita bahwa kau dekat dengan Himchan dari Namjoo,
auranya berubah menjadi abu abu.”
“jadi?” tanyaku padanya.
“sepertinya mereka, dan alasannya..”
ucapan Daehyun mulai aneh.
“apa? Kau kan tahu hal seperti
itu…”
“aku memang indigo. Tapi bukan
berarti aku dukun. Kesimpulan dari
semua ini itu, mereka saling tidak menyukai..”
Dahiku mengkerut. “alasannya?”
“sepertinya doa Namjoo didengar Tuhan.”
“doa apa?” tanyaku pada Daehyun. Dan aku makin penasaran saat
Daehyun tersenyum padaku.
~~~
Tidur Himchan terganggu buyi
ringtonenya sendiri. Sebuah telepon dari nomor tak dikenal.
“yoboseyo?”
“hei, Kim Himchan. Kuperingatkan
jangan dekat dekat Yuji-ku. Oke gak?” dan panggilan itu terputus.
“hallo?? Hallo???”
Dan Himchan pun kembali ditemani
sunyi.
~~~
Author pov
Keesokan harinya disekolah,
Himchan mulau menjauhi Yuji. Bukan karena telepon itu, namun karena perasaannya
sendiri. Himchan ingin membunuh perasaannya pada Yuji. Dia bahkan tidak
mengajak Woohyun menjauh, namun mengajak Daehyun yang duduk dengan Dongwoo
untuk bertukar tempat. Sehingga, Woohyun duduk dengan Daehyun, sementara
Himchan diduduk dengan Dongwoo.
Sementara Yuji yang melihat perubahan
ini semakin bingung atas kelakuan sahabatnya, Himchan. Dia teringat atas kata
kata Daehyun. Matanya yang mengarah pada Himchan berpindah pada Namjoo yang
duduk disebelahnya.
“ya, namjoo. Kau pernah berdoa apa
tentang aku dan Himchan?” tanya Yuji.
Wajah Namjoo mulai memucat, dia
takut. Namjoo pernah kena marah Yuji dan dia takut Yuji marah padanya lagi.
“ya, namjoo,” panggil Yuji lagi.
Walaupun Yuji berusaha selirih mungkin, tetap saja dia ketahuan gurunya.
Guru mata pelajaran Kimia bernama Park
Jinyoung yang biasa dipanggil Pak P berteriak pada Yuji. “Kim Yuji! Cepat maju!
Kerjakan soal ini!”.
Sementara Yuji yang benar benar
tidak memperhatikan gurunya ini, mulai kebingungan. Dia tidak bisa. Apa yang
harus aku lakukan?? Batin Yunji.
“Yuji! Cepat!”
“ne songsaenim.” Setelah dia maju,
dia tidak melakukan apa apa, karena dia memang tidak bisa.
“sepintar apapun kamu di Fisika
dan Matematika, kau tetap tidak akan bisa jika tidak memperhatikan guru. Kim
Himchan, kerjakan soal ini.”
Himchan maju. Tanpa memperhatikan
pandangan Yuji, dia mengerjakan soal dengan cepat. Setelah selesai, dia
memberikan spidolnya pada Pak P, dan melewati Yuji begitu saja tanpa bilang apa
apa.
Yuji kembali kebangkunya.
Pandangannnya mengarah pada Himchan. Tidak biasanya Himchan seperti itu.
Himchan bukan yang dulu lagi. Sejak SMP, jika Yuji tidak bisa mengerjakan soal,
Himchan akan mengerjakan soal itu dan mulai menyindir Yuji dengan kata kata
pedas. Namun karena kata kata Himchan itulah, Yuji menjadi lulusan terbaik
nomor 2 setelah Himchan di SMPnya dulu.
Sampai istirahat pun, Himchan sama
sekali tidak menyapa Yuji. Bahkan melihat saja tidak. Apalagi bergabung makan
siang. Malah dua kali tidak mungkin. Sehingga Yuji, Namjoo, dan Woohyun mulai
merindukan sosok hiperaktif Himchan. Sosok yang merupakan moodmaker sekaligus
moodbreaker. Namun Yuji tidak berhenti disitu saja untuk menyelidiki perubahan
sikap Himchan. Saat Himchan keluar kelas, Yuji mengikutinya.
Himchan menyadari bahwa dirinya
diikuti seseorang. Kemudian dia
berlari menghindari pengejar itu.
“ya! Kim Himchan!” teriak Yuji.
Namun tetap saja Himchan berlari dengan cepatnya. Sampai masuk ke dalam
perpustakaan. Yuji mengikuti Himchan dia masuk kedalam dan bertemu seseorang
bernama Yoo Youngjae.
“ya, Youngjae. Apakah kau melihat Himchan?”
Tanya Yuji.
“tidak, memangnya kenapa?” tanya
Youngjae.
“tidak apa apa…” Yuji mulai
melangkah keluar perpustakaan. Kemudian dia berbalik. “youngjae, aku ingin
bertanya padamu.”
“tentang apa? Himchan?”
“iya, apa kau tahu alasannya
merubah sifatnya?”
“aku tidak tahu, dia sama sekali
tidak cerita padaku. Yang pasti dia punya alasan.”
“dan kira kira apa kau tahu alasannya?”
Youngjae menggeleng. “mungkin Namjoo atau Woohyun atau Daehyun tahu.”
Yuji menghela nafasnya. “yasudah kalau begitu. Terima kasih Youngjae.”
Youngjae tersenyum. Sambil melihat
punggung Yuji yang semakin jauh. Kemudian dia melihat kearah bawah. “sudah
aman.”
“terima kasih Youngjae.” Ujar
Himchan keluar dari tempatnya sembunyi.
“aku ingin tanya…”
“alasan aku berubah?” tebak
Himchan dengan tepat. Youngjae mengangguk.
“aku tidak tahu. Sejak mendapat
telepon dari Myungsoo, aku melihat Yuji lagi. Dia lebih sering tertawa dengan
Myungsoo daripada denganku, jadi aku merasa kalau Yuji lebih bahagia dengan
Myungsoo.” Jawab Himchan.
Youngjae mengangguk. “aku mengerti
perasaanmu.” Ujar Youngjae sambil menepuk pundak Himchan pelan
Dihalaman sekolah, Myungsoo
menarik tangan Yuji. Ingin bicara katanya. Setelah beberapa langkah dari
bangunan terbelakang di sekolah mereka, Myungsoo membalikkan tubuhnya.
“hei, Yuji. Aku ingin bicara sesuatu padamu.”
“apa?” tanya Yuji.
“aku suka kamu. Sudah sejak kita bertemu beberapa hari yang lalu… jadi apa
kau mau menjadi pacarku?” tanya Myungsoo
Yuji terdiam. Dia menoleh kearah
sekelilingnya. Setelah merasa aman, Yuji membisik, “akan aku pikirkan.” Dan
membuat Myungsoo tersenyum.
Namun, aman itu kan menurut Yuji.
Padahal ada dua orang dibawah pohon terdekat tempat mereka berdiri.
“ya, apa kita tidak pulang? Aku sudah lapar.” Ucap Junhong.
Himchan menoleh kearah sepupunya itu. kemudian menoleh kearah Yuji dan
Myungsoo. “baiklah, ayo pulang.”
“tidak untuk sekarang Kim Himchan…
aku ada urusan denganmu…”
Himchan menoleh, dan sesuatu yang
buruk terjadi.
~~~
Sepulang sekolah, Yuji mendapat
kakaknya tertawa sendiri seperti orang gila.
“ya, oppa, apa kau sudah gila? Kau tertawa tertawa sendiri dari tadi…”
Sunggyu melihat kearah adiknya. “cepat ganti baju, kemudian ikut aku.”
Yuji melihat kakaknya penuh curiga, “ada apa ini?”
“sepertinya temanmu sudah bertaubat. Aku akan membuat pesta untuk
merayakannya” Ujar Sunggyu sambil memberikan sebuah foto pada Yuji.
Mata Yuji terbelalak melihat foto
itu. matanya beralih menatap kakaknya.
“oh iya, aku tadi membaca diarymu. Maaf lancang. Tapi kalau aku jadi kamu,
aku lebih pilih Himchan daripada Myungsoo.” Yuji terdiam. Menunduk.
“yah, aku tahu. Cinta pertama susah dilupakan. Tapi, ini untuk kebaikanmu
sayang…” lanjut Sunggyu sambil mengelus rambut panjang Yuji.
“tapi kenapa Himchan? Beberapa hari yang lalu, dia mulai menjauhiku…”
“Woohyun dan Namjoo pasti tahu alasannya. Dan alasannya menyangkut dirimu
juga…”
Yuji mengadah. Menatap kakaknya
sambil tersenyum. “thanks my bigbro.”
Sunggyu tersenyum. “urwell my
littlesister…”
Yuji berlari kearah kamarnya.
“tunggu aku! Aku ikut!”
Sunggyu berteriak tak kalah
hebohnya, “cepetan, bentar lagi aku ada syuting!”
~~~
Keesokan harinya…
“pagi semua!!!! Morning
everibodieh!!!” teriak Yuji didepan pintu.
Namjoo melihat kearah sahabatnya
yang satu itu. “kau kenapa? Absurd tau nggak.”
Yuji menoleh kearah sahabatnya.
“samting sepesial yu now… ntar itu aku ke sekertariatan tim mading aku pengen
menempelkan sesuatu. Bukan cuman aku sih, tapi aku, Sunggyu oppa, Yongguk oppa,
Chorong unnie, Minhyuk oppa, Changsub oppa, dan Dongwoo”
“kenapa anak kelas XII semua??”
tanya Namjoo.
Yuji tersenyum. “lihat aja. Orang
yang mau aku tempel semacam ini.” Kata Yuji sambil memberikan foto yang
diberikan Sunggyu kemarin siang.
Namjoo tertegun, itu foto Myungsoo
dan Eunji sedang berpegangan tangan. Sepertinya mereka kencan. “kau sudah tidak
suka dengan Myungsoo??”
“sepertinya sudah tidak lagi.”
Jawab Yuji enteng.
“ kau dengan mudahnya bilang jika
kau sudah tidak suka dengan Myungsoo? Kalau aku jadi kau, aku akan berpikir
lebih dahulu. Karena hal ini, yang kau lakukan ini sudah menyakiti hati
seseorang yang paling dekat denganmu…” ujar Namjoo kelepasan. Namjoo langsung
menutup rapat mulutnya dengan tangannya.
“orang yang dekat denganku?
Maksudmu Himchan?” tanya Yuji.
~~~
Namjoo pov
Mampus, aku pake kelepasan segala
lagi. Ke Yuji juga. Bahaya kalau dia sampai marah, jangan sampai rahasia
Himchan ketahuan Yuji! Ya Tuhan, tolong berikan aku jalan…
Tapi, kalau aku memberitahukannya
pada Yuji, kan masalah ini selesai… ah tidak, jangan. Aku bisa kena marah
Himchan nanti. Tapi, Himchan dan Yuji, ugh, kenapa mereka sama sama
menakutkan???
“ya, Kim Namjoo, tolong beri tahu
aku. Aku benar benar kebingungan sekarang…” ujar Yuji.
“bingung kenapa?” tanyaku pelan.
“dua hari yang lalu, aku tanya
pada Daehyun. Dia bilang kau tahu alasan kenapa Himchan berubah. Kemarin, di
perpustakaan aku bertemu Youngjae. Dan dia bilang antara kau, Woohyun, dan
Daehyun tahu alasan Himchan. Dan Oppa, juga bilang kalau antara kau dan Woohyun
tahu alasan Himchan…”
“Oppamu? Sunggyu oppa? Sunggyu
sunbaenim tahu hal ini?” aku segera menutup mulutku sendiri. Lagi.
Mampus! Dasar Kim Namjoo!
~~~
Author Pov
Dahi Yuji mengkerut. “hal ini? Kau tahu alasannya bukan? Cepat
katakan padaku” paksanya.
Namjoo hanya menghela nafasnya. Tidak menjawab perkataan Yuji. Matanya
mengarah kebawah. Tidak berani menatap mata Yuji.
Yuji merasa menanyai Namjoo bukanlah hal yang tepat. Yuji beranjak dari
tempatnya duduk.
“ya, Kim Yuji, kau mau kemana?”
tanya Namjoo lirih.
“keluar. Cari angin.” Jawab Yuji
pelan. Kemudian, dia mulai melangkah.
Seseorang menahan tangan Yuji.
Woohyun.
“aku akan menceritakannya. Dan
juga termasuk alasan Himchan tidak masuk hari ini.”
“Himchan tidak masuk?”
~~~
“ya, apa kita tidak pulang? Aku sudah lapar.” Ucap Junhong.
Himchan menoleh kearah
sepupunya itu. kemudian menoleh kearah Yuji dan Myungsoo. Yuji sudah tidak ada
disana. “baiklah, ayo pulang.”
“tidak untuk sekarang Kim
Himchan… aku ada urusan denganmu…”
Himchan menoleh. Dan dia langsung mendapat bogem mentah dari Myungsoo.
“mengapa kau ada disini? bukannya aku sudah bilang, jangan dekati
Yuji-ku lagi.”
Himchan mengelus elus
pipinya yang mulai membiru. “aku tidak mendekati Yuji-mu. Aku hanya
kebetulan lewat disini.”
Myungsoo tersenyum. “menurutmu, aku percaya?”. Myungsoo bersiul keras.
“nah, aku ada hadiah untukmu.” Dan mata Himchan membulat.
Dari belakang kelas bahasa, muncul 6 orang siswa kelas XI-IPS 5 yang
terkenal nakal. Mereka adalah Yoon Doojoon, Jang Hyunseung, Yong Junhyung, Yang
Yoseob, Lee Gikwang, dan Son Dongwoon.
Himchan memandang Dongwoon tak percaya. Dia tidak percaya akan bertemu
orang itu lagi.
“kaget? Tidak percaya?” tanya Dongwoon. “aku bahkan lebih tak percaya
orang sepertimu akan melukai adikku Son Naeun.”
“Hyung, akku…”
Myungsoo tersenyum. Jari telunjuknya menunjuk Himchan. “hajar dia.”
Sedetik kemudian, keenam orang itu sudah memukuli, menendang, dan
melakukan kekerasan terhadap Himchan. Sementara Junhong hanya melongo melihat
kakak sepupunya yang tengah dikeroyok manusia manusia berbadan besar itu.
“yuji-ku? Yuji-mu? Apa maksudnya?”
tanya Yuji memotong cerita Woohyun.
“Myungsoo menyukaimu. Dia selalu
berkata ‘yuji-ku’” ujar Namjoo.
“dan, siapa Junhong?” tanya Yuji
lagi.
“Choi Junhong. Adik sepupu
Himchan. Dia anak kelas 8 SMP sebelah.” Jawab Woohyun.
~~~
“sebulan terakhir, eh bukan. Dua
minggu terakhir, sikap Himchan hyung sangat aneh. Biasanya, dia akan
menggangguku belajar. Kadang menelepon, SMS dan semua itu tidak penting. Kalau
pulang sekolah juga hyung sering sekali mencubit pipiku, hidungku, bahkan juga
memencet hidungku sampai aku sulit bernafas. Tapi 2 minggu belakangan, hyung
tidak pernah melakukan itu padaku.” Jelas Junhong di sebuah kafe di dekat
sekolahnya.
“tidak pernah?” tanya Yuji.
“iya, tidak pernah. Sama sekali
tidak pernah. Karena aku penasaran, kemarin aku pergi kesekolah nunna. Dan aku
menemukan hyung sedang berdiri dibelakang sebuah pohon.” Sambung Junhong.
“kemudian?” tanya Yuji.
“aku menepuk bahunya. Kemudian aku
bertanya, ‘ya, hyung sedang apa kau disini?’. himchan hyung bilang, ‘sebentar
Junhongie, hyung sedang memperhatikan sesuatu.’ Kemudian, aku melihat kearah
pandangan Himchan hyung. Aku melihat nunna dan namja itu. kemudian aku duduk
disebelah hyung berdiri. Saat nunna pergi, aku bertanya pada Himchan hyung,
‘ya, apa kita tidak pulang? Aku sudah lapar.’ Dan saat hyung mengajakku pulang,
terjadi pengeroyokan itu.” jelas Junhong panjang lebar.
Yuji berdiri. Berjalan menuju pintu. Keinginannya adalah melihat sekaligus
mematahkan hidung Myungsoo. Bagi ketua ekskul taekwondo dan karate, tidak ada
kata tidak mungkin di kamusnya. Tidak ada yang bisa menghentikannya, kecuali...
“nuna, tadi kau janji untuk membayarnya kan??”
~~~
“ya! Kim Myungsoo!”
“ne???” tanya Myungsoo tanpa melihat siapa yang memanggilnya.
“apa yang kau lakukan pada Himchan??”
“Himchan? Siapa Himchan? Pecundang kakap merah itu?? Sudah jangan ganggu
aku. Aku sedang menikmati bermain UNO dengan kakak kakak ini.” Jawab Myungsoo
mengundang tawa Yoon Doojoon, Jang Hyunseung, Yong Junhyung, Yang Yoseob, Lee
Gikwang, dan Son Dongwoon.
Yuji semakin naik darah saja. Darahnya sudah mencapai ubun ubun. “YA! KIM
MYUNGSOO!! KALAU JAWAB LIHAT ORANGNYA!!” Teriak Yuji.
“sudahlah nak, jangan ganggu bos kami...” kata kata Junhyung terbutus
sembari dia menoleh kepalanya kearah sumber suara. Keringat dinginnya menetes
seketika.
“mampuss...” sambung Junhyung. Junhyung segera meletakkan kartunya diatas
meja sambil berkata, “aku mundur, aku mau kabur.” Dan segera pergi dari ruangan
itu. Dan setelah kelima sahabatnya tahu pemilik suara, mereka langsung pergi
sambil membawa kartu mereka.
“Eh sialan aku ditinggal sendiri. Mana kartuku dibawa lagi..” ujar Myungsoo
sambil menoleh. “kkau... eeh, hai Yuji.”
Yuji tersenyum sinis, “tadi kau bilang Himchan apa? Pecundang kakap merah?”
Myungsoo tersenyum, “iya, aku benar kan, Yuji-ku yang manis??”
“Yuji-ku?”
“...”
“katakan sekali lagi”
“...”
“katakan sekali lagi!!”
“...”
“sudah kubilang, KATAKAN SEKALI LAGI!!!!!!!”
“...”
Yuji mendekati Myungsoo, tak peduli berapa banyak orang datang karena
teriakannya. Tak peduli itu teman, kakak kelas, kakaknya sendiri, guru, ataupun
kepala sekolah sekalian.
Yuji mulai membuat bunyi bunyi aneh dari tulangnya.
“kau tau, apa yang sudah kau lakukan itu salah. Menghajar ketua osis dengan
kakak kelas, membuat koloni rahasia dan berbahaya....”
“koloni berbahaya??” Putus Myungsoo sambil bergerak mundur.
“Yoon Doojoon, Jang Hyunseung, Yong
Junhyung, Yang Yoseob, Lee Gikwang, dan Son Dongwoon. Mereka anggota geng kan?
Itu berbahaya, kau tahu??”
Myungsoo tersenyum, “kau memperhatikanku ya?”
“kau bilang memperhatikanmu?” Satu pukulan tangan mendarat dengan mulus di
pipi Myungsoo.
“ini yang kau sebut memperhatikan??” satu lagi di perut Myungsoo yang
berhasil membuatnya jatuh terduduk.
“aku memang memperhatikan. Tapi memperhatikan Eunji yang kencan dengan
superhero kelas bakteri sepertimu.” Satu lagi di pelipis Myungsoo yang langsung
heboh membiru.
“dan ini hadiah terakhir untukmu...” satu lagi dan yang terakhir di tujuan
utamanya. Hidung.
~~~
Sore yang indah... hari yang indah untuk Yuji pergi menjenguk Himchan. Yuji
mengingat kembali apa yang diceritakan Woohyun tadi siang.
“Himchan menyukaimu Yuji-a,
sangat menyukaimu. Tapi dia berpikir bahwa kau lebih suka bersama Myungsoo
daripada bersamanya.”
Atau kata kata Sunggyu kemarin sepulangnya dari bersenang senang
“Himchan jauh lebih baik
daripada Myungsoo. Aku lebih percaya jika kau bersamanya.”
Atau ucapan Junhong, yang dianggapnya masih kecil itu.
“ketika aku masuk kamar
Channie hyung, dikamarnya begitu banyak foto seorang gadis. Aku selalu saja
bertanya pada hyung, siapa gadis itu. Dan sekarang aku tahu. Gadis itu ternyata
ada didepanku.”
Yuji berjalan sampai depan kamar inap Himchan. 194. Tanggal lahir Himchan,
batin Yuji.
Yuji mengetuk pintu perlahan. “Masuk” ujar yang didalam ruangan.
Yuji membuka ruangan itu. Tidak terlalu luas. Namun terlihat nyaman.
Himchan duduk di tepi ranjangnya.
“baikan?”
“uummm..”
“...”
“haah... aku, jadi iri pada Woohyun.”
“iri? Iri kenapa?”
“karena bisa melihatmu menghajar Myungsoo dan membuat anggota geng itu lari
ketakutan. Aku yakin pasti terlihat sangat keren.”
“sebenarnya, aku masih ingin memukul seseorang.”
Himchan menoleh. “siapa?”
“seseorang yang -kata sepupunya- dihajar sampai bonyor, dan gak ngasi tau
sahabatnya sendiri. Yang membuat sahabatnya itu merasa kesepian karena nggak
ada yang mengacaukan hidupnya yang tenang.”
Himchan mengerti maksud Yuji. Orang itu adalah dirinya sendiri. “sahabatnya
itu memiliki kehidupan yang tenang kan kalau orang itu tidak mengacaukannya?
Kenapa sahabatnya merasa kesepian saat tidak ada orang itu?”
“karena orang itu adalah orang yang mewarnai hidupnya.”
“tapi bagaimana jika orang itu menjauhi sahabatnya karena... ” ucap Himchan
terputus. “Maaf, aku hanya...”
“aku tahu. Speaking choro.” Jawab
Yuji. “kau ini, pintar matematika, tapi kau tidak tahu sesuatu tentang sahabat
orang ini.”
Himchan melihat Yuji dengan tampang kebingungan. “apa hubungannya dengan
matematika?”
“semua persamaan pasti ada penyelesaiannya kan? Jawaban paling mudah adalah
satu penyelesaian.”
“satu penyelesaian?”
“yes. Dan penyelesaian itu ada pada jawaban dari sebuah pertanyaan.”
“maksudmu?
“Bagaimana jika sahabatnya menyukai orang ini?”
“haah??” Himchan hanya mengedipkan kedua matanya tanda tak mengerti.
Yuji tersenyum. Yuji beranjak pergi, “aku pulang dulu, udah sore” Yuji
membuka pintu, bermaksud pulang.
“hei kau yang diambang pintu.”
Yuji menoleh, sebuah pesawat kertas jatuh tepat didepannya. Yuji membuka
pesawat kertas itu.
Kosong
“himchan-ah, kau...”
Himchan tersenyum.
“apa maksudmu dengan kertas kosong?”
“aku hanya takut kau meninggalkanku saat aku ingin mengatakan sesuatu
padamu. Ini.” Himchan memberikan sebuah gulungan kertas pada Yuji.
Yuji mengambil kertas tersebut.
Kosong juga
“ya! Apa maksudmu?”
Himchan menarik Yuji jatuh ke pelukannya. Himchan mencium kening Yuji.
“aku janji, besok aku akan mengajakmu ke suatu tempat.”
“buat apa?”
“udahlah ikut saja.”
~~~
Esok siangnya, Himchan menunggu Yuji di depan gerbang sekolahnya.
“ya! Himchan!”
Himchan menoleh. Woohyun dan Namjoo.
“hngg?”
“kenapa belum masuk?”
“suka suka dong. Ngg...”
“Yuji?” tebak Namjoo.
Himchan mengangguk.
“tuh belakangmu.”
Himchan menoleh.
Yuji, tangan kanan buku paket fisika dan kamus. Tangan kiri buku paket
kimia dan biologi.
Ni anak bawaannya banyak
banget sih?. Batin
Himchan.
Melihat Yuji kerepotan membawa buku, Himchan mengambil semua buku itu.
“ayo.” Ujarnya sambil menarik Yuji pergi dan berlalu melewati Woohyun dan
Namjoo.
~~~
Himchan terdiam, Yuji juga terdiam.
“yuji-a, kamu sudah tahu semuanya kan? Junhong sudah cerita semuanya kan?
Apa alasanku menjauhimu, apa yang menyebabkanku berusaha menghapusmu dari
ingatanku, dan apa...”
“aku tahu.” Potong Yuji. “tapi, kalau kita jadian dan putus tengah jalan,
apa persahabatan kita juga ikut putus?”
“nggak, aku jamin.”
“kenapa, kamu seyakin itu?”
“karena aku takut kehilangan kamu.”
Yuji terdiam. “aku...”
“kenapa? Tanya apa aja, terserah kamu.”
“kalo kita pacaran terus jailin kamu?”
“boleh kok.”
“teriak teriak didepanmu?”
“boleh.”
“ngambil makan siangmu?”
“boleh.”
“Nendang? Banting? Nonjok?”
“jangan coba-coba”
Yuji tersenyum. “aku...”
~~~
“udah sore, ayo pulang.” Ajak Himchan.
“gak mau, aku pengen sama kamu.” Jawab Yuji.
“kalau kamu dimarain mama kamu?”
“aku bakal bilang ‘diajak makan Himchan’ jadi dia nggak akan marah.”
“yuji...”
“nggak”
“yuji...”
“nggak mau”
“yuji... kamu mau bayarin semuanya?”
“yaudah, ayo pulang. Anterin ya, my special one.”
“jangan panggil gitu. Panggil Himchan aja.”
“ah ne~~”
~~~
Malamnya Yuji membuka Diarynya yang sudah 2 minggu tidak dibukanya.
Dibacanya tulisannya tentang Myungsoo, Cinta pertamanya –Myungsoo juga-, teman
masa kecilnya –Myungsoo lagi-, dan teman sebangkunya –lagi lagi Myungsoo-.
Ditulisnya...
Dear diary, hari ini aku
baru sadar. Aku bukan orang yang mendapatkan kebahagiaan dari cinta pertamaku.
Aku baru sadar aku dan Myungsoo bukanlah Romeo dan Juliet yang saling mencintai
sampai mati. Myungsoo tidak sesempurna itu. Dia bahkan lebih buruk dari yang
aku kira. Ketika aku berpikir dia sangat sempurna, ternyata dia malah
menampakkan keburukannya.
Sedangkan Himchan, sejak
kemarin, dia membuatku merasa bahagia. Apalagi tadi siang. Dia bukan orang yang
menyebalkan seperti yang dulu, Himchan sangat baik sekarang. Dia mentraktirku
–itu yang utama-, mengantarku pulang, dan –yang paling penting- membuatku
melupakan Myungsoo.
Tuhan, biarkan Himchan
disisiku untuk selamanya. Dia segalanya bagiku sekarang. Terimakasih, Kau telah
mengirimkannya padaku. Maafkan aku yang tidak menyadari keberadaannya selama
hampir 4 tahun.
Himchan, maafkan aku.
Maafkan aku telah menyakitimu selama ini. Maafkan aku telah terlambat menyadari
perasaanku sendiri padamu. Aku menyukaimu Himchan-sswi
Tepat setelah Yuji menutup diarynya, hpnya berbunyi.
Neowa gadeon keopisyop
Uri dulmanui keopisyop
Ni hyanggiga naneun igoseseo
Meonghani anjaisseo
Yuji menjawab teleponnya
“yoboseyo?”
“yoboseyo, Yuji-a”
Yuji tersenyum lebar. Hatinya berbunga bunga.
“ne? Himchan-a??”
otokek otokek otokek??? ajukan keluhan juseyooooo......
bai the wai, perkenalkan anda bisa memanggil saya Ms. Jung
wkwkwkwk...