Selasa, 30 September 2014

[FF] 1004 P.2

“Kim Myungsoo?” panggilku disaat istirahat. Siswa baru itu hanya membaca buku sedari tadi.
Wajah itu menoleh kearahku. “siapa?” tanyanya.
“aku Kim Yuji. Sepertinya aku pernah melihatmu..tapi dimana?” Tanyaku.
“Kim Yuji? Kau Kim Yuji??” tanya Myungsoo sambil beranjak dari tempat duduknya.
“iya, aku Kim Yuji. Ada apa?” tanyaku.
“siapa nama Kakakmu?” tanyanya.
“Kim Sunggyu. Kenapa? Ada yang aneh?”
“kau benar kau!!” tanpa sadar Myungsoo memelukku. “kau tahu, aku sangat ingin bertemu denganmu.” Myungsoo melepas pelukannya. “aku Myungsoo, kita pernah bermain bersama waktu kecil.”
“myungsoo? Sepupu Sungyeol dan Sungjong?” tanyaku.
“iyya! Ish, bagaimana kabarmu?” tanya Myungsoo sambil tersenyum.
“aku baik baik saja..”
Dan sedetik kemudian kami sudah membicarakan masa kecil yang bahagia tanpa melihat setitik api yang mulai membara dihati orang yang sama sekali tidak kusadari.
~~~
Himchan pov
Sepulang sekolah, Yuji masih saja ngobrol dengan Myungsoo. Woohyun dan Namjoo pun ikut mencampuri percakapan mereka. Sedangkan aku lebih memilih ngobrol dengan Daehyun dibelakang mereka.
“ya, Kim Himchan!” teriak Daehyun yang sukses membuat mereka berempat menoleh.
“ya! Jung Daehyun! Aku tahu suaramu beroktaf oktaf tingginya. Tapi jangan berteriak padaku seperti itu! aku bisa tuli!”
Keempat orang itu kembali ke percakapan mereka. Namun, Myungsoo menoleh kearahku dan berkata, “dari tadi kita belum berkenalan. Kau Kim Himchan kan? Presiden sekolah, Ketua kelas sekaligus sahabat Yuji itu kan?”
Aku berusaha tersenyum kearahnya. “iyya, senang berkenalan denganmu Kim Myungsoo..” jawabku.
“aku juga” jawabnya sambil tersenyum. Walaupun wajahnya cerah, sepertinya dia memendam sesuatu yang tidak ingin ditunjukkannya padaku. Dan aku pun juga seperti itu.
~~~
Yuji  pov
Saat Myungsoo berbicara dengan Himchan, aku merasa ada sesuatu yang mereka berdua sembunyikan. Baik Myungsoo maupun Himchan. Namjoo, Woohyun, dan Daehyun juga merasakan hal yang sama. Apalagi manusia indigo bernama Daehyun itu. Saat kutanya tentang perkenalan yang mereka lakukan, Daehyun menjawab, “Aku baru saja akan bertanya hal itu padamu.”
“menurutmu, apa yang terjadi pada mereka? Beberapa hari ini pun mereka hanya berbicara seperlunya.”
“diawal bertemu, aura Himchan mulai berubah menjadi abu abu. Begitu juga Myungsoo, saat mendengar cerita bahwa kau dekat dengan Himchan dari Namjoo, auranya berubah menjadi abu abu.”
“jadi?” tanyaku padanya.
“sepertinya mereka, dan alasannya..” ucapan Daehyun mulai aneh.
“apa? Kau kan tahu hal seperti itu…”
“aku memang indigo. Tapi bukan berarti aku dukun. Kesimpulan dari semua ini itu, mereka saling tidak menyukai..”
Dahiku mengkerut. “alasannya?”
“sepertinya doa Namjoo didengar Tuhan.”
“doa apa?” tanyaku pada Daehyun. Dan aku makin penasaran saat Daehyun tersenyum padaku.
~~~
Tidur Himchan terganggu buyi ringtonenya sendiri. Sebuah telepon dari nomor tak dikenal.
“yoboseyo?”
“hei, Kim Himchan. Kuperingatkan jangan dekat dekat Yuji-ku. Oke gak?” dan panggilan itu terputus.
“hallo?? Hallo???”

Dan Himchan pun kembali ditemani sunyi.
~~~
Author pov
Keesokan harinya disekolah, Himchan mulau menjauhi Yuji. Bukan karena telepon itu, namun karena perasaannya sendiri. Himchan ingin membunuh perasaannya pada Yuji. Dia bahkan tidak mengajak Woohyun menjauh, namun mengajak Daehyun yang duduk dengan Dongwoo untuk bertukar tempat. Sehingga, Woohyun duduk dengan Daehyun, sementara Himchan diduduk dengan Dongwoo.
Sementara Yuji yang melihat perubahan ini semakin bingung atas kelakuan sahabatnya, Himchan. Dia teringat atas kata kata Daehyun. Matanya yang mengarah pada Himchan berpindah pada Namjoo yang duduk disebelahnya.
“ya, namjoo. Kau pernah berdoa apa tentang aku dan Himchan?” tanya Yuji.
Wajah Namjoo mulai memucat, dia takut. Namjoo pernah kena marah Yuji dan dia takut Yuji marah padanya lagi.
“ya, namjoo,” panggil Yuji lagi. Walaupun Yuji berusaha selirih mungkin, tetap saja dia ketahuan gurunya.
Guru mata pelajaran Kimia bernama Park Jinyoung yang biasa dipanggil Pak P berteriak pada Yuji. “Kim Yuji! Cepat maju! Kerjakan soal ini!”.
Sementara Yuji yang benar benar tidak memperhatikan gurunya ini, mulai kebingungan. Dia tidak bisa. Apa yang harus aku lakukan?? Batin Yunji.
“Yuji! Cepat!”
“ne songsaenim.” Setelah dia maju, dia tidak melakukan apa apa, karena dia memang tidak bisa.
“sepintar apapun kamu di Fisika dan Matematika, kau tetap tidak akan bisa jika tidak memperhatikan guru. Kim Himchan, kerjakan soal ini.”
Himchan maju. Tanpa memperhatikan pandangan Yuji, dia mengerjakan soal dengan cepat. Setelah selesai, dia memberikan spidolnya pada Pak P, dan melewati Yuji begitu saja tanpa bilang apa apa.
Yuji kembali kebangkunya. Pandangannnya mengarah pada Himchan. Tidak biasanya Himchan seperti itu. Himchan bukan yang dulu lagi. Sejak SMP, jika Yuji tidak bisa mengerjakan soal, Himchan akan mengerjakan soal itu dan mulai menyindir Yuji dengan kata kata pedas. Namun karena kata kata Himchan itulah, Yuji menjadi lulusan terbaik nomor 2 setelah Himchan di SMPnya dulu.

to be continued

Sabtu, 20 September 2014

[FF] 1004 P.1



FF debut. jangan diketawain loh kalo aneh...

Don't be silent readers please!!!

~~~~

12 tahun yang lalu…
“annyeong, Kim Yuji imnida…” salam seseorang yeoja kecil pada seorang namja kecil di sebuah  taman bermain di TKnya. Yeoja itu sepertinya baru saja masuk di sekolah TK itu.
“ah, annyeong, Kim Myungsoo imnida…” jawab namja itu.
“senang bertemu denganmu Myungsoo-ssi…”
“senang bertemu denganmu juga Yuji-ssi. Ayo bermain bersama…”ajak namja itu sambil tersenyum.
~~~
Yuji pov
Rasanya aku ingin kembali ke masa TKku saja. Bertemu dengan pangeran pujaanku yang pernah mengajakku bermain untuk yang pertama kalinya. Bertemu dengan seseorang yang bernama Kim Myungsoo. Berhadapan dengannya. Memandang senyum manisnya. Rasanya sekarang aku ingin terbang, memutar waktu dan…
“ya! Kim Yuji!” teriak seorang namja sambil menggebrak mejaku. Kim Himchan.
Hmm… sepertinya impianku sia sia saja. Yang terlihat didepanku bukanlah Kim Myungsoo. Namun Kim Himchan, sahabatku, musuhku, ketua kelasku, bahkan presiden sekolahku. Hmmm… sebenarnya apa yang dipilih dari orang yang menyebalkan seperti dia??
“apa?” tanyaku pada Himchan. Melihat nada jawabanku padanya, terlihat sekali bahwa kami sering bertengkar.
“mana Woohyun? Bukannya tadi kau bersamanya?”
“wakilmu itu? mana kutahu, mungkin dia sedang berjalan jalan dengan Jongup.” Jawabku asal sambil mulai memasang earphone di telingaku.
“dasar Nam Woohyun. Disaat yang diperlukan seperti ini dia malah tidak ada…” ujar Himchan. Kemudian dia menoleh ke arahku, “hei, Yuji!”
“yuji!”
“Yuji!!!”
“YUJI!!!”
“Apa??” tanyaku kaget sambil melepas earphoneku.
“tidak bisakah kau melepas earphonemu dan mendengarkanku?” tanya Himchan keki.
“aku sudah melepas earphoneku. Sekarang bicaralah…” jawabku tenang.
“ish.. katakan pada woohyun kalau dia kutunggu di ruang auditorium. Dan, apakah kau tahu dimana orang yang menyukai kakakmu itu??” tanya Himchan usil.
“siapa?”
“siapa lagi orang yang menyukai Kim Sunggyu selain Jung Eunji??” tanya Himchan sedikit tertawa.
Jung Eunji. Siswi kelas X-A yang terkenal glamour, sok cantik, dan –yang paling utama—menyukai Kim Sunggyu, kakakku yang berada di kelas XII-IPA1. Kakakku merupakan pendamping kelasnya sewaktu  kami menjalani Masa Orientasi. Bahkan dia –Eunji—pernah menyuruhku untuk tidak dekat dekat dengan Sunggyu oppa. Dan alhasil, dia sendiri yang menanggung malu saat istirahat waktu itu.
~~Flashback~~
Jam istirahat tanggal 15 bulan lalu, aku duduk di sebuah kursi di kantin dengan Himchan, Woohyun, Daehyun dan Namjoo. Saat aku sedang bercanda dengan Himchan…
“yo, Yuji!!!” panggil seorang sunbaenim, Bang Yongguk.
“ne oppa?” tanyaku, sambil berdiri.
“kau dipanggil Sunggyu! Ada sesuatu yang ingin dia berikan katanya.” Jawab Yongguk oppa.
“oh, ne!” jawabku sambil berlari kearah Yongguk oppa.
15 menit kemudian…
“ada masalah apa??” tanya Namjoo padaku.
“ini,” jawabku sambil menunjukkan sebuah tas laptop –berisi laptop pastinya—dan sejumlah uang.
“kau belum diberi uang saku? Sampai harus minta pada Sunggyu sunbae??” tanya Himchan sambil tertawa.
“belum! Tadi uangnya dikorupsi sunggyu oppa…” jawabku tanpa sadar kalau Eunji ada dibelakangku.
“apa kau bilang? Sunggyu oppa korupsi?” tanya Eunji.
Aku membalik badanku. “oh hai eunji.” Sapaku malas.
“kau tadi bilang apa? Sunggyu oppa korupsi? Bukannya kau yang harus dituduh seperti itu?” tanya Eunji sinis. “lihat, kau bahkan memaksa seorang sunbae meminjamkan laptopnya untuk orang sepertimu.” Sambung Eunji.
“ kenapa? Kau iri?” tanyaku.
“iri padamu? Untuk apa? Lihat saja, pasti mudah bagiku untuk mendekati Sunggyu sunbaenim. Tidak sepertimu yang menggunakan cara yang tidak baik.”
“tidak baik??” tanya seseorang dibelakang Eunji.
Melihat kedatangan Sunggyu oppa, Eunji langsung menghambur  memeluk tangan oppa sambil pura pura menangis. “oppa, tadi dia menamparku.”
Sunggyu oppa melepaskan tangannya sambil berkata, “bukannya kau yang bilang kalau cara Yuji tidak baik. Apa batasan saudara dianggap tidak baik?? Yuji adik kandungku. Bukan orang yang tidak penting sepertimu.”
~~~Flasback end~~~
Aku memanyunkan bibirku mendengar namanya. “mungkin dia sedang ganti kulit.” Jawabku asal.
Himchan tertawa. “selain itu, dia bisa saja sedang melolong ke kakakmu ‘oppa, plis, pinjami aku laptopmu… sekali ini saja’” ujar Himchan sambil menirukan gaya Eunji yang manja –alias praktek aegyo-.
Aku tertawa. Aku benar benar tidak menyangka reaksi Himchan berlebihan seperti itu. “katamu kau menyukainya.”
Himchan berhenti tertawa, dia duduk disebelahku. “sejak sebulan yang lalu, aku tidak menyukainya lagi..”
Seseorang menepuk pundak Himchan. “ada apa? Katanya kau mencariku??” tanya si pemilik tangan sambil tetap memakan snack yang baru dibelinya. Nggak usah dikasi tau pasti sudah tahu kalau itu Woohyun.
“bukan aku, Suman songsaenim. Katanya ada anak baru dikelas ini, kau dipanggil beliau.” Jawab Himchan pendek sambil berdiri. “aku mau.” Ujar Himchan kemudian sambil mengambil sejumlah snack dari tangan Woohyun.
“eh, ambilkan aku juga. Aku minta ya …” sahutku.
“Pak S sedang ada dimana?” tanya Woohyun.
“di ruang TU. Cari aja.” Jawab Himchan.
Setelah Woohyun pergi, aku dan Himchan kembali membicarakan topik semula.
“kenapa kau sudah tidak menyukainya? Kau move on?”
“aku fokus UN.” Jawab Himchan pendek. Orang yang satu sekolah dengan Himchan semasa SMP pasti tahu apa maksud dari kata kata itu.
Aku tertawa. “kau sudah kelas berapa Kim Himchan, belom waktunya pakai alasan fokus UN seperti caramu memutuskan Naeun dulu…”
Himchan murung, “ternyata susah mencari orang seperti Naeun. Susah sekali…”
Aku memukul paha Himchan “siapa suruh meng-PHP dia?”
“aku..”
“siapa suruh bikin Naeun cemburu?”
“aku..”
“siapa suruh memutuskan Naeun?”
“aku..”
“siapa suruh bikin Naeun nangis?”
“aku..” Kepala Himchan mendongak. “bukan semuanya salahku.” Lanjutnya.
“terus, siapa lagi?” tanyaku.
Himchan menatapku sinis. “siapa yang menjodohkanku dengannya?”
Aku tertegun. Rupanya Himchan masih ingat hal itu. “aku tahu. Tapi itu kan hanya permainan Truth or Dare.”
“tetap saja kau mempermainkan perasaan temanmu…”
“kan aku hanya memberimu tantangan untuk berpacaran dengan Naeun. Bukan meng-PHP dia..”
“tetap saja. Kan awal dari PHP itu pacaran.”
“kan yang pacaran kamu, bukan aku.”
“kan yang suruh kamu.”
“yang pacaran kamu. Yang mutusin kamu. Yang PHP-in kamu. Semuanya salahmu tau.”
“yang menjodohkan kamu. Yang ngawali main kamu. Yang ngasih tantangan kamu. Apa lagi?”
“pokoknya kamu yang salah.”
“kamu lah…”
“kamu!”
“kamu!”
“kamu!”
“kamu!”
“kalian berdua!” ujar Namjoo tiba tiba sambil mengangkat tangannya. “kalian ini, bertengkar aja terus. Jangan lupain loh, cinta berawal dari kebiasaan.”
“kan itu kamu sama Woohyun.” Ujar Himchan. “nggak berlaku buat kita.”
“iya.” Jawabku menyetujui Himchan.
“siapa yang tahu takdir. Kita kan nggak tahu.”
Aku dan Himchan hanya terdiam.
“Hei Namjoo!” panggil seseorang teman, Daehyun. “kau makan apa sampai bisa menghentikan pertempuran mereka?” tanyanya.
“kau tanya aku? Tentu saja aku makan nasi. Masa makan kawat?” tanya Namjoo.
Semua orang tertawa. Sampai suara bell yang nyaring berbunyi. Seorang guru –yang namanya Pak S tadi—, Woohyun, dan seseorang yang lainnya masuk kekelas. Woohyun duduk di bangku didepanku.
“anak anak.” Ujar Pak S membuka pertemuannya.
“iya bapak bapak.” Jawab seisi kelas. Memang kelas X-D sangat suka mempermainkan guru.
Pak S tertawa. “ini, ada teman baru. Kenalkan namanya Kim Myungsoo.”
“annyeong, Kim Myungsoo Imnida.”
Degg…
Aku pernah mendengar suara itu, aku pernah melihat wajah itu. aku pernah melihat senyum itu. Dan, aku pernah mendengar nama itu. Dia…

to be continued